Presiden Joko Widodo (Jokowi) secara resmi meresmikan Makassar New Port (MNP), pelabuhan peti kemas terbesar di wilayah Timur Indonesia. Dengan investasi mencapai Rp5,4 triliun, MNP diharapkan menjadi pendorong utama dalam mengoptimalkan logistik nasional, menghemat biaya, dan meningkatkan daya saing Indonesia di tingkat global.
Baca Juga: Pakar Hukum Sebut Rekrutmen Perangkat Desa Kabupaten Kediri Tahun 2023 Cacat Hukum
Megahnya Makassar New Port: Revolusi Logistik Indonesia Dimulai!
Presiden Joko Widodo (Jokowi) secara resmi menghadiri peresmian Makassar New Port (MNP) di Makassar, Sulawesi Selatan, pada hari ini, tanggal 22 Februari. Pelabuhan kontainer ini termasuk dalam Proyek Strategis Nasional (PSN).
Dalam sambutannya, Jokowi mengungkapkan bahwa dana yang diinvestasikan dalam proyek MNP mencapai angka Rp5,4 triliun.
“Dana sebesar Rp5,4 triliun ini sungguh luar biasa. Kita akan melihat bagaimana perkembangan pelabuhan ini ke depannya,” ujar Jokowi di Makassar, pada hari Kamis, tanggal 22 Februari.
Jokowi menyebutkan bahwa Makassar New Port adalah pelabuhan kontainer terbesar di wilayah Timur Indonesia dan menempati posisi kedua terbesar di Indonesia setelah Tanjung Priok, Jakarta.
Baca Juga: Kekayaan Alam Jawa Timur: Daerah Penghasil SDA Lengkap
Selain itu, ia berharap kehadiran pelabuhan kontainer ini dapat mengurangi biaya logistik.
“Kami berharap dapat mengurangi biaya logistik yang ada di Indonesia,” kata Jokowi.
Menurutnya, barang-barang yang datang ke Makassar dari luar kota memerlukan waktu antara 5 hingga 7 hari untuk proses pembongkaran. Hal ini dianggapnya sebagai pemborosan waktu yang tidak efisien.
“Dengan hadirnya Makassar New Port, waktu pembongkaran rata-rata dapat dilakukan dalam waktu kurang dari tiga hari saja. Ini sangat positif. Kami dapat bersaing dengan pelabuhan besar di negara lain,” ungkapnya.
“Istilah ‘kekuatan dan potensi’ adalah hal yang kami terus kembangkan agar daya saing kami dapat melampaui negara-negara lain,” tambahnya.
Membangun Pelabuhan Kontainer Terbesar di Timur Indonesia
Mengenai Pelayanan Kapal Kontainer Besar di Tanjung Priok
Menteri Perhubungan, Budi Karya Sumadi, menyatakan bahwa kapasitas MNP telah ditingkatkan hingga 150 persen, dari sebelumnya 1 juta TEUs menjadi 2,5 juta TEUs per tahun. Waktu sandar kapal di pelabuhan juga meningkat menjadi maksimal 24 jam, dibandingkan sebelumnya yang mencapai 48 jam.
Lebih lanjut, Budi menjelaskan bahwa MNP direncanakan sebagai pelabuhan utama dan pusat distribusi bagi pelabuhan-pelabuhan di wilayah Indonesia timur, terutama untuk kegiatan ekspor.
Sebelumnya, ekspor berbagai produk unggulan dari wilayah tersebut dilakukan melalui Pelabuhan Tanjung Perak di Surabaya atau Pelabuhan Tanjung Priok di Jakarta.
“Diharapkan dengan adanya dua pelabuhan di Makassar, yaitu Pelabuhan Soekarno-Hatta dan Makassar New Port, akan semakin mendukung dan memperbaiki distribusi logistik di Indonesia,” kata Budi dalam keterangan resmi pada hari Rabu, tanggal 21 Februari.
Makassar New Port merupakan salah satu Proyek Strategis Nasional. Pembangunan MNP dilakukan dalam tiga tahap dan direncanakan selesai pada tahun 2037. Proyek ini sepenuhnya didanai oleh PT Pelindo.
Membangun Makassar New Port: Pelabuhan Strategis yang Mengubah Landscape Logistik Indonesia
Makassar New Port (MNP) bukan sekadar proyek infrastruktur, melainkan perubahan paradigma dalam pelayanan logistik Indonesia. Dengan kapasitas yang ditingkatkan menjadi 2,5 juta TEUs per tahun dan waktu sandar kapal yang lebih efisien, MNP menjadi hub vital bagi ekspor dan distribusi produk unggulan Indonesia ke pasar global.
Kehadiran MNP tidak hanya menguntungkan sektor ekonomi, tetapi juga membawa dampak positif terhadap efisiensi biaya logistik di Tanah Air. Dukungan penuh pemerintah dan investasi yang besar dari PT Pelindo dalam pembangunan MNP menunjukkan komitmen untuk memajukan sektor logistik Indonesia, menjadikannya lebih kompetitif dan relevan di era globalisasi ini.












