Pelariannya tidak mulus. Ia sempat singgah di Banten, tapi nasib berkata lain. Banten pun akhirnya bersekutu dengan VOC. Daeng Mangalle tak mau berkompromi. Ia kembali berlayar, kali ini jauh ke utara, menuju negeri yang tak terjamah VOC: Kerajaan Siam (sekarang Thailand).
Dari Pengungsi Menjadi Bendahara Kerajaan
Setibanya di Ayuthia, ibu kota Siam kala itu, sambutan hangat menantinya. Raja Phra Narai langsung kagum pada kecerdasan luar biasa Daeng Mangalle. Tak butuh waktu lama, sang raja memberikan kepercayaan penuh padanya. Sebuah jabatan penting dipercayakan: mengelola kas kerajaan.
Baca Juga: Misteri Kematian Bocah di Sukabumi Dugaan Kekerasan Ibu Tiri Hingga Proses Hukum
Singkat cerita, Daeng Mangalle resmi diangkat menjadi bendahara, atau dalam bahasa Thai disebut “Doeja Paedi”. Bayangkan saja, seorang pangeran yang melarikan diri dari negaranya, kini menjadi orang kepercayaan raja dan memegang kendali keuangan sebuah kerajaan asing. Kisah ini benar-benar langka.
Sayangnya, nasib baik itu tak bertahan lama. Daeng Mangalle dituduh terlibat dalam konspirasi untuk menjatuhkan raja, sebuah tuduhan yang ia bantah mentah-mentah. Dengan jiwa kesatria, ia memilih untuk menanggung konsekuensi daripada mengakui perbuatan yang tak ia lakukan.
Sang raja, yang termakan tuduhan, lantas memerintahkan pasukan untuk mengepung perkampungan orang Makassar. Pertempuran sengit pun tak terhindarkan. Meski berjuang dengan gagah berani, orang-orang Makassar kalah jumlah. Pada 1686, Daeng Mangalle akhirnya gugur, namun keberaniannya membuat penduduk lokal takjub.
Daeng Mangalle memang tidak dikenang sebagai seorang menteri keuangan yang membangun negerinya. Namun, ia dikenang sebagai sosok pejuang tangguh, yang memilih mati terhormat demi prinsip, dan menjadi orang Indonesia pertama yang menjabat posisi setara menteri di kerajaan asing.
Kisahnya adalah pengingat bahwa kompetensi dan integritas bisa membawa seseorang ke mana saja, bahkan melintasi samudra.












