MEMO – Ketua Umum Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI), Dani Setiawan, menyampaikan kekhawatiran mendalam terkait dampak perubahan iklim global yang semakin nyata. Menurutnya, fenomena ini menjadi salah satu faktor utama yang menyebabkan penurunan drastis hasil tangkapan ikan para nelayan di berbagai wilayah.
Lebih lanjut, Dani menjelaskan bahwa perubahan suhu air laut yang semakin menghangat dan berbagai bencana iklim yang kian sering terjadi turut memperburuk kondisi hasil tangkapan para nelayan tradisional. “Adanya pengaruh perubahan iklim secara signifikan telah mengakibatkan penurunan hasil tangkapan ikan yang dialami oleh para nelayan,” tegas Dani pada hari Selasa (8/4/2024).
Ia menyoroti bahwa peningkatan suhu air laut menjadi salah satu penyebab utama permasalahan ini. Tidak hanya itu, para nelayan juga harus bergulat dengan tantangan tambahan berupa banjir rob yang frekuensinya semakin meningkat dan sulit diprediksi.
Dampak dari kondisi lingkungan yang memprihatinkan ini secara langsung berimbas pada kondisi ekonomi para nelayan. “Situasi ini tak pelak menyebabkan penurunan pendapatan yang signifikan bagi para nelayan,” ungkapnya dengan nada prihatin.
Baca Juga: Misteri Kematian Bocah di Sukabumi Dugaan Kekerasan Ibu Tiri Hingga Proses Hukum
Fenomena serupa juga terkonfirmasi terjadi di wilayah pesisir selatan Jember, Jawa Timur. Nurul Hidayah, pendiri Sobung Sarka Jember, menyampaikan hasil penelitiannya terkait isu ini.
Menurut Nurul, para nelayan di wilayah tersebut telah merasakan dampak buruk perubahan iklim secara langsung dalam aktivitas melaut mereka. “Para nelayan kini semakin kesulitan mencari ikan. Dalam enam bulan terakhir, mereka terpaksa melaut lebih jauh dari biasanya, dan pemicu utamanya adalah perubahan iklim yang semakin ekstrem,” jelas Nurul.
Kondisi ini menjadi peringatan keras bagi pemerintah dan seluruh pihak terkait untuk mengambil tindakan nyata dan serius dalam upaya mitigasi perubahan iklim. Selain itu, perlindungan terhadap komunitas nelayan yang semakin terpinggirkan akibat dampak buruk lingkungan juga menjadi prioritas yang mendesak.












