Example floating
Example floating
Berita-PeristiwaJatim

Mengungkap Kasus Perdagangan Orang di Blitar: Modus dan Penangkapan Terkait

Avatar
×

Mengungkap Kasus Perdagangan Orang di Blitar: Modus dan Penangkapan Terkait

Sebarkan artikel ini
Mengungkap Kasus Perdagangan Orang di Blitar Modus dan Penangkapan Terkait
Example 468x60

MEMO, Blitar: Polisi Blitar Kota berhasil mengungkap kasus perdagangan orang yang melibatkan seorang ibu dan anak di Blitar.

Modus operandi yang digunakan adalah dengan mengiming-imingi calon korban pekerjaan di luar negeri dengan gaji tinggi.

Dalam operasi penangkapan, polisi berhasil menyelamatkan seorang calon korban yang sedang ditampung di rumah milik pelaku.

Penangkapan ini mengungkap keterlibatan ESP (51) dan NA (26), warga Desa Bagelenan, Kecamatan Srengat, Kabupaten Blitar dalam jaringan perdagangan orang.

Modus Operandi Perdagangan Orang di Blitar: Rayuan Gaji Tinggi dan Janji Pekerjaan di Luar Negeri

Seorang ibu dan anak di Blitar bekerja sama untuk melakukan tindak pidana perdagangan orang atau perdagangan manusia. Mereka adalah ESP (51) dan NA (26) yang berasal dari Desa Bagelenan, Kecamatan Srengat, Kabupaten Blitar.

Modus operandi yang mereka gunakan adalah dengan menjanjikan calon korban pekerjaan di luar negeri dengan gaji yang tinggi.

Kapolres Blitar Kota, AKBP Argowiyono, mengungkapkan bahwa pihak kepolisian awalnya menerima informasi dari masyarakat tentang adanya penampungan calon pekerja migran Indonesia (PMI) di Srengat.

Setelah dilakukan pengecekan, ternyata informasi tersebut benar dan terdapat satu calon korban yang sedang ditampung di rumah milik ESP, yaitu Stela Lope (34) dari Manado, Sulawesi Utara.

“Kemarin kami datang ke lokasi dan memang benar disana digunakan sebagai tempat penampungan calon PMI. Kami menemukan ada satu calon korban,” ungkap AKBP Argowiyono pada Rabu (21/6/2023).

AKBP Argowiyono menjelaskan bahwa pelaku menawarkan jasa kepada korban, Stela Lope, untuk bekerja di Singapura sebagai perawat bayi, pengurus rumah tangga, dan perawat bayi.

Selain itu, pelaku juga memberikan janji bahwa korban akan menerima gaji sebesar Rp7 juta per bulan.

Baca Juga  Misteri 10.000 Tentara Jepang di Biak Terkuak! Tulang Belulang Dipulangkan, Wisata Sejarah Bangkit

ESP bertindak sebagai tim lapangan yang mencari target korban melalui media sosial dan promosi dari mulut ke mulut, sementara NA bertugas melakukan wawancara dengan para korban.

“Kedua pelaku ini memiliki peran yang berbeda, ESP sebagai tim lapangan yang mencari target sasaran, sedangkan NA melakukan wawancara terhadap calon korbannya. Mereka menawarkan kepada Stela untuk bekerja di Singapura dengan gaji Rp7 juta per bulan,” jelasnya.

Selain itu, pelaku juga menjanjikan bahwa korban akan segera diberangkatkan ke Singapura karena mereka memiliki kerjasama dengan sebuah agensi di sana.

Pelaku juga mengiming-imingi korban bahwa mereka akan menanggung semua biaya selama korban berada di penampungan dan sampai bisa berangkat ke Singapura.

Hutang tersebut akan dibayarkan oleh korban dengan cara dipotong dari gajinya selama enam bulan setelah mulai bekerja.

Penampungan dan Penyekapan Calon PMI di Blitar: Rumah sebagai Tempat Pelatihan dan Penipuan

Menurut AKBP Argowiyono, rumah penampungan yang disediakan oleh pelaku digunakan untuk pelatihan kerja, pembelajaran bahasa asing, dan persiapan calon PMI sebelum bekerja di luar negeri.

Stela Lope telah berada di penampungan sejak tanggal 5 Juni 2023, dan selama berada di sana, ia disekap di dalam kamar dan dilarang melakukan aktivitas di luar ruangan. Korban hanya diberikan makan dua kali sehari.

“Korban telah berada di sana selama sekitar dua minggu, dan selama itu dia hanya diperintahkan untuk tinggal di dalam kamar dan tidak diperbolehkan melakukan aktivitas di luar,” ujar AKBP Argowiyono.

Stela Lope mengaku kepada media bahwa saat berada di penampungan, ia mengalami sakit dan sempat mempertimbangkan untuk membatalkan keberangkatannya ke Singapura.

Namun, ketika ia memberitahukan hal tersebut kepada pelaku, ia malah diminta membayar Rp5 juta sebagai biaya pembatalan.

Baca Juga  Usai Terendam, Rawajati Bangkit! Warga Gotong Royong Bersihkan Lumpur Sisa Banjir

Pelaku menyatakan bahwa data identitas korban telah dikirim ke Singapura, yang berarti korban harus berangkat. Jika ingin membatalkan, korban harus membayar Rp5 juta.

“Saat berada di sana, saya memang tidak mengalami tindakan kekerasan, tetapi saya hanya disuruh melakukan pekerjaan rumah tangga seperti menyapu dan mengepel. Saya ingin pulang ke Manado dan membatalkan perjalanan ke Singapura, tetapi pelaku meminta uang sebesar Rp5 juta,” ungkap Stela Lope.

AKBP Argowiyono menambahkan bahwa pihak kepolisian masih menyelidiki kasus dugaan perdagangan orang tersebut, termasuk dalam hal ini berapa lama para tersangka telah menjalankan bisnis ilegal ini.

Diduga bahwa tersangka telah mengirimkan dua orang ke Singapura secara ilegal.

Kasus perdagangan orang di Blitar yang melibatkan seorang ibu dan anak telah terungkap.

Pelaku menawarkan jasa kepada calon korban dengan iming-iming pekerjaan di Singapura dan gaji yang tinggi.

ESP berperan sebagai tim lapangan yang mencari target sasaran, sementara NA bertugas melakukan wawancara dengan calon korban.

Pelaku juga menjanjikan korban untuk memberangkatkan mereka dengan cepat ke Singapura, namun sebenarnya mereka melakukan penipuan dan penahanan terhadap korban.

Polisi masih melakukan penyelidikan lebih lanjut terkait kasus ini, termasuk jumlah korban yang telah diberangkatkan secara ilegal.