Example floating
Example floating
Life Style

Mengatasi Stereotip Daging dan Maskulinitas dalam Gerakan Veganuary

Alfi Fida
×

Mengatasi Stereotip Daging dan Maskulinitas dalam Gerakan Veganuary

Sebarkan artikel ini
Mengatasi Stereotip Daging dan Maskulinitas dalam Gerakan Veganuary
Mengatasi Stereotip Daging dan Maskulinitas dalam Gerakan Veganuary

Sebuah studi menunjukkan bahwa dalam bahasa yang memiliki kata benda berdasarkan jenis kelamin, kata-kata yang berkaitan dengan daging lebih sering terkait dengan kata benda yang berjenis kelamin laki-laki.

“Saya rasa di hampir semua tempat di belahan bumi utara, kita mengasosiasikan daging dengan kejantanan,” kata Isaias Hernandez, seorang pendidik lingkungan dari Amerika Serikat.

Baca Juga: Langkah Hijau Volume Sampah Ramadhan Di Bondowoso Potensi Meningkat Sarkaspace Hadirkan Drop Box Khusus Botol Plastik Untuk Jaga Kebersihan Kota

“Dan hal ini memperkuat pola pikir patriarki yang menguasai berbagai aspek dalam kehidupan di Bumi.”

The Vegan Society baru-baru ini melakukan penelitian untuk melihat sikap terhadap pola makan vegan, dengan tujuan untuk melibatkan lebih banyak pria.

Baca Juga: Waspada Kesehatan Kasus Leptospirosis Naik di Awal 2026 Musim Hujan Jadi Faktor Utama Penyebaran Bakteri Kencing Tikus di Jawa Timur

Mereka menemukan bahwa meskipun 41% pria non-vegan di Inggris tertarik untuk menjadi vegan, hambatan utamanya adalah stigma sosial atau ejekan dari teman dan keluarga, karena gaya hidup vegan sering dianggap sebagai sesuatu yang “feminin”.

Selain itu, istilah “soy boy” juga seringkali dilekatkan pada mereka. Istilah ini digunakan untuk menggambarkan pria yang dianggap lemah karena gaya hidup vegan mereka.

Baca Juga: Fakta!!! Penumpang Daop 7 Madiun Meningkat 4,6 Persen pada Masa Nataru 2025/2026 Dibanding Tahun Sebelumnya

Mengatasi Stereotip Maskulinitas dalam Veganuary: Mendorong Partisipasi Kaum Pria

Mendorong kesadaran akan hubungan antara gaya hidup vegan dengan aspek kesehatan, lingkungan, dan kemanusiaan tanpa berkaitan dengan identitas gender menjadi langkah krusial. Dengan demikian, dapat menciptakan lingkungan yang lebih inklusif dan memperluas akses terhadap manfaat gaya hidup berbasis nabati bagi semua orang, tanpa terkekang oleh stereotype yang ada.