Memo.co.id, PROBOLINGGO – Cuaca ekstrem yang melanda wilayah Jawa Timur kembali menelanjangi rapuhnya infrastruktur perkotaan di pesisir utara. Fenomena drainase buruk sebabkan 5 kawasan Kota Probolinggo terendam banjir setelah hujan lebat mengguyur selama beberapa jam terakhir. Luapan air yang tidak mampu tertampung di saluran primer mengakibatkan akses jalan protokol lumpuh dan air mulai memasuki pemukiman warga dengan ketinggian bervariasi. Kondisi ini memicu reaksi keras dari kalangan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) setempat yang menilai pemerintah kota kurang serius dalam melakukan langkah mitigasi serta pemeliharaan berkala terhadap gorong-gorong yang kian dangkal dan dipenuhi limbah padat.
Dampak Drainase Buruk Terhadap Banjir di Kota Probolinggo
Kronologi Genangan di Titik Protokol Kota Hujan deras yang turun sejak sore hari membuat sistem drainase di Kota Probolinggo kewalahan. Aliran air yang seharusnya mengalir lancar menuju muara justru tertahan dan meluap ke badan jalan. Kondisi ini terlihat jelas di beberapa ruas jalan utama yang menjadi urat nadi transportasi kota. Kendaraan bermotor, terutama roda dua, banyak yang mengalami mati mesin akibat nekat menerjang genangan yang cukup dalam.
Baca Juga: H+2 Lebaran 1447H/ 2026 M, Volume Penumpang di Wilayah Daop 7 Madiun Pecah Rekor Capai Puluhan Ribu
Fakta bahwa drainase buruk sebabkan 5 kawasan Kota Probolinggo terendam menunjukkan bahwa distribusi air hujan tidak berjalan sesuai perencanaan teknis. Warga di pemukiman padat penduduk menjadi pihak yang paling terdampak, di mana mereka harus berjibaku menyelamatkan perabotan rumah tangga saat air mulai masuk ke teras hingga ruang tamu.
Kritik Legislatif Terhadap Pemeliharaan Infrastruktur Merespons musibah tahunan ini, DPRD Kota Probolinggo langsung melakukan tinjauan lapangan. Para wakil rakyat ini menyoroti lemahnya koordinasi antar dinas terkait dalam memastikan kebersihan saluran air sebelum musim penghujan tiba. Kritikan pedas dilontarkan terkait anggaran pemeliharaan yang dinilai tidak terserap secara optimal untuk pembersihan sedimentasi lumpur di saluran-saluran strategis.
Anggota dewan menegaskan bahwa alasan curah hujan ekstrem tidak bisa lagi dijadikan pembelaan tunggal. Jika sistem pembuangan berfungsi 100 persen, genangan seharusnya bisa surut dalam waktu singkat. Namun, kenyataan di lapangan menunjukkan air bertahan cukup lama, yang mengonfirmasi bahwa ada sumbatan masif atau desain saluran yang sudah tidak relevan dengan beban debit air saat ini.
Analisis Teknis Penyumbatan Saluran Air Secara teknis, permasalahan ini berakar pada akumulasi sampah domestik dan penyempitan dimensi drainase akibat pembangunan pemukiman yang tidak terkendali. Banyak saluran drainase yang kini tertutup oleh beton permanen tanpa lubang kontrol yang memadai, sehingga menyulitkan petugas kebersihan saat akan melakukan pengerukan lumpur (normalisasi).
Baca Juga: Ponpes Al Ubaidah Jadi Tuan Rumah Penutupan Safari Ramadan 1447 H/2026 M Pemkab Nganjuk
Masalah drainase buruk sebabkan 5 kawasan Kota Probolinggo terendam ini juga diperparah dengan elevasi tanah di beberapa titik yang membuat air mengumpul di satu area tanpa saluran pelimpah (overflow). Penumpukan sampah plastik di pintu-pintu air menjadi pemandangan umum yang memperlambat laju air menuju laut, sehingga memicu backwater atau aliran balik ke wilayah daratan yang lebih rendah.
Solusi Jangka Panjang dan Anggaran Mitigasi Pemerintah Kota Probolinggo kini didesak untuk segera melakukan audit total terhadap masterplan drainase kota. Tidak cukup hanya dengan pengerukan manual, diperlukan pembangunan kolam retensi dan penambahan pompa air di titik-titik rawan banjir. Selain itu, penegakan aturan terkait IMB (Izin Mendirikan Bangunan) yang mewajibkan penyediaan sumur resapan di setiap bangunan baru harus diperketat.
DPRD menjanjikan akan mengawal pengalokasian anggaran cadangan guna perbaikan darurat pada titik-titik krusial. Namun, mereka juga mengingatkan masyarakat untuk turut serta menjaga kebersihan dengan tidak membuang sampah ke selokan. Sinergi antara pembangunan infrastruktur yang canggih dan perilaku masyarakat yang sadar lingkungan adalah satu-satunya cara untuk memutus rantai banjir di Kota Probolinggo.
Langkah Cepat Perbaikan Drainase Buruk Kota Probolinggo
Masalah banjir bukan sekadar persoalan alam, melainkan cerminan dari kesiapan sebuah kota dalam mengelola ruangnya. Fenomena di mana drainase buruk sebabkan 5 kawasan Kota Probolinggo terendam harus menjadi pelajaran berharga bagi jajaran eksekutif. Tanpa adanya tindakan nyata dan evaluasi mendalam terhadap infrastruktur bawah tanah, warga akan terus dihantui rasa was-was setiap kali awan mendung menggelayut di langit kota. Harapannya, proyek normalisasi yang dijanjikan pemerintah dapat segera terealisasi sebelum puncak musim penghujan membawa dampak yang lebih destruktif bagi perekonomian lokal.
FAQ
Penyebab utamanya adalah sistem drainase yang buruk, penyempitan saluran akibat bangunan, serta banyaknya sampah yang menyumbat aliran air.
Setidaknya ada 5 kawasan utama yang sering terendam, mencakup beberapa jalan protokol dan wilayah pemukiman padat penduduk yang elevasinya rendah.
DPRD menuntut audit masterplan drainase, percepatan normalisasi saluran, dan peningkatan pemeliharaan infrastruktur secara rutin.
Solusi yang ditawarkan meliputi pembangunan kolam retensi, penambahan sistem pompa, serta edukasi masyarakat untuk tidak membuang sampah di saluran air.












