Example floating
Example floating
Internasional

Malam Neraka di Kharkiv, Balas Dendam Rusia yang Memporak porandakan Kota dan Isinya

A. Daroini
×

Malam Neraka di Kharkiv, Balas Dendam Rusia yang Memporak porandakan Kota dan Isinya

Sebarkan artikel ini
Ukraina hancur dibombardir Rusia

“Bagi kami, ini adalah masalah eksistensial, masalah kepentingan nasional, keselamatan, masa depan kami dan masa depan anak-anak kami, negara kami,” tegas Peskov, menunjukkan betapa dalamnya akar konflik ini bagi Moskow.

Klaim ini diperkuat oleh Presiden Rusia Vladimir Putin yang, pasca-serangan drone Ukraina terhadap pesawat militer berkemampuan nuklir di pangkalan udara Rusia di Siberia minggu lalu, bersumpah akan membalas.

Baca Juga: Rusia Lirik Pasukan Garuda untuk Perbatasan Ukraina, Kemlu Buka Suara

Ironisnya, di tengah semua ini, upaya perdamaian terus berlanjut, meskipun tanpa hasil nyata. Ukraina sempat mendesak gencatan senjata 30 hari tanpa syarat dalam perundingan di Istanbul, Senin, 9 Juni 2025.

Namun, harapan itu pupus. Rusia, yang kini menguasai sekitar seperlima wilayah Ukraina, berulang kali menolak seruan untuk mengakhiri perang.

Baca Juga: Operasi "Smash and Grab": Amerika Serikat Dilaporkan Tangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro

Tuntutan Putin untuk menghentikan pertempuran sangat besar: penarikan penuh pasukan Ukraina dari empat wilayah yang diklaim Rusia (meskipun tidak sepenuhnya di bawah kendali militernya), diakhirinya dukungan militer Barat, dan larangan Ukraina bergabung dengan NATO.

Bagi Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky, tuntutan ini hanyalah “ultimatum lama.” Ia mempertanyakan tujuan dari perundingan semacam itu, dan alih-alih menuruti, Zelensky menyerukan pertemuan puncak yang dihadiri oleh dirinya, Putin, dan Trump—sebuah harapan tipis di tengah awan kelabu perang yang tak kunjung usai.

Baca Juga: Protes Memanas di Timor Leste, Ribuan Warga Turun ke Jalan Tolak Pembelian Mobil Mewah Anggota DPR

Kharkiv, dengan luka barunya, kini menjadi simbol dari ketidakpastian masa depan Ukraina. Di tengah gempuran tanpa henti dan tuntutan politik yang tak berujung, warga sipil terus membayar harga tertinggi dalam konflik yang, bagi kedua belah pihak, adalah soal eksistensi.