Ketika kondisi Raya kritis, relawan dari Rumah Teduh segera bertindak. Pendiri Rumah Teduh, Iin Asi, menceritakan kendala besar yang mereka hadapi. Meskipun rumah sakit bersikap kooperatif dengan memberikan waktu untuk mengurus administrasi, birokrasi yang rumit di tingkat dinas terkait membuat proses BPJS mandek.
“Saya sampai menangis. Relawan saya sampai nangis,” ujar Iin, mengungkapkan frustrasinya. Pihaknya terpaksa menanggung biaya perawatan Raya secara pribadi, karena komunikasi dengan dinas terkait tidak berjalan lancar.
Baca Juga: Misteri Kematian Bocah di Sukabumi Dugaan Kekerasan Ibu Tiri Hingga Proses Hukum
Pernyataan dari Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat, Vini Adiani, menjelaskan bahwa pemerintah sebetulnya telah menyiapkan dana cadangan untuk kasus-kasus darurat seperti ini. Namun, ia mengakui adanya kendala koordinasi dan birokrasi di tingkat kabupaten. Di sisi lain, Iin Asi kembali mempertanyakan mengapa dana tersebut tidak mudah diakses saat dibutuhkan.
Kasus Raya menjadi alarm keras yang menggugah kesadaran publik. Di balik data dan program yang ada, masih ada celah sistem yang menyebabkan nyawa anak-anak tak berdosa terenggut. Tragedi ini menyoroti perlunya perbaikan menyeluruh pada koordinasi antarlembaga, pemangkasan birokrasi, dan komitmen nyata dari semua pihak untuk memastikan tidak ada lagi kasus serupa di masa depan.












