Example floating
Example floating
Peristiwa

Kisah Humanis Kapolres Metro di Balik Pengamanan Demonstrasi di Depan Gedung DPR/MPR

A. Daroini
×

Kisah Humanis Kapolres Metro di Balik Pengamanan Demonstrasi di Depan Gedung DPR/MPR

Sebarkan artikel ini
Kisah Humanis Kapolres Metro di Balik Pengamanan Demonstrasi di Depan Gedung DPRMPR

Jakarta, Memo
Di balik barikade dan ketegangan yang sering menyertai unjuk rasa, ada sebuah pesan yang jarang terdengar: polisi hadir bukan untuk menghadapi musuh, melainkan untuk melayani saudara-saudara kita. Inilah semangat yang ditekankan oleh Kapolres Metro Jakarta Pusat, Kombes Susatyo Purnomo Condro, saat memimpin 1.145 personel gabungan untuk mengamankan demonstrasi di depan Gedung DPR/MPR hari ini.

Susatyo menegaskan bahwa seluruh personel tidak dibekali senjata api. Pengamanan dilakukan dengan pendekatan persuasif dan humanis, jauh dari kesan represif. “Silakan berorasi dengan tertib, jangan memprovokasi, jangan melawan petugas,” ujarnya. Pesan ini bukan sekadar imbauan, tetapi cerminan dari komitmen untuk menjaga kebebasan berpendapat sebagai hak yang dijamin undang-undang.

Baca Juga: H+2 Lebaran, Meski Ramai dan Padat Situasi Jalan Doho Termasuk Stasiun KA Kediri Tetap Lancar, Begini Penjelasan Polisi

Demonstrasi yang digelar oleh Gerakan Mahasiswa Bersama Rakyat (GEMARAK) bersama beberapa elemen aliansi lainnya ini dijadwalkan berlangsung sekitar pukul 14.00 WIB. Mereka membawa sejumlah isu krusial, mulai dari penolakan terhadap kapitalisme, imperialisme, dan militerisme, hingga seruan untuk mengganyang oligarki.

Untuk mengantisipasi segala kemungkinan, seluruh personel telah menggelar simulasi dan apel pengamanan. Tujuannya satu: memastikan unjuk rasa berjalan damai dan pesan yang disampaikan bisa diterima dengan baik tanpa ada kericuhan. Polisi juga mengimbau masyarakat untuk menghindari kawasan tersebut dan menggunakan jalur alternatif agar tidak terjebak kemacetan.

Baca Juga: Misteri Kematian Bocah di Sukabumi Dugaan Kekerasan Ibu Tiri Hingga Proses Hukum

Pada akhirnya, unjuk rasa ini diharapkan menjadi ruang aspirasi, bukan ajang kekerasan. Kisah di balik pengamanan ini mengingatkan kita bahwa di tengah perbedaan pandangan politik, semangat untuk menjaga persatuan dan pelayanan publik tetap menjadi prioritas utama.