Pada Sabtu pagi yang seharusnya dipenuhi semangat kebersamaan dan pengorbanan di Hari Raya Idul Adha, sebuah tragedi tak terduga menyelimuti Mushalla Firdaus di Jorong Dalam Nagari, Barulak, Tanah Datar.
Di tengah hiruk pikuk persiapan penyembelihan hewan kurban, Jafar, seorang petani berusia 80 tahun, tiba-tiba harus menghadapi takdir yang tak disangka-sangka. Ia meregang nyawa usai sebuah tendangan maut dari sapi kurban yang hendak ia bantu sembelih.
Jafar, yang dikenal sebagai Jafar Dt Pado Nan Kuniang, adalah bagian dari tim relawan yang sigap membantu proses kurban dua ekor sapi di musala tersebut. Seperti banyak warga di Barulak, ia adalah sosok yang penuh pengabdian, tak hanya di ladang, tapi juga dalam kegiatan keagamaan. Namun, pagi itu, suasana khidmat berubah menjadi mencekam.
Saat salah satu sapi sudah berhasil direbahkan, tiba-tiba hewan besar itu meronta dengan kekuatan penuh. Dalam sekejap, tali pengikat di kakinya terlepas.
Baca Juga: Perjuangan Ayah Gendong Anak Seberangi Sungai Deras Demi Sekolah di Ponorogo
Sebelum siapa pun sempat bereaksi, tendangan kuat dari kaki sapi yang mengamuk itu menghantam tubuh renta Jafar yang berada terlalu dekat.
Seketika, Jafar tak sadarkan diri. Ketegangan menyelimuti lokasi kurban. Panik bercampur duka, warga segera melarikan Jafar ke rumah sakit terdekat. Namun, takdir berkata lain. Nyawa kakek delapan puluh tahun itu tak dapat diselamatkan.
Wali Nagari Barulak, Azizman, membenarkan insiden tragis ini, “Memang benar, korban adalah salah seorang pekerja kurban yang kena tendang oleh sapi lalu meninggal dunia.”
Azizman menyampaikan duka cita mendalam atas kepergian warganya. Ia menjelaskan bahwa Jafar adalah sosok sederhana yang sehari-hari bergelut dengan tanah sebagai petani.
Kisah tragis Jafar ini menjadi pengingat pahit tentang risiko yang tak terduga, bahkan di tengah momen suci sekalipun.
Meski duka menyelimuti, proses penyembelihan hewan kurban di Mushalla Firdaus tetap dilanjutkan, sebagai bentuk penghormatan terakhir dan kelanjutan ibadah yang harus ditunaikan.
Kepergian Jafar bukan hanya kehilangan bagi keluarga dan warga Barulak, tetapi juga menjadi sorotan akan pentingnya kehati-hatian dan standar keamanan dalam setiap pelaksanaan ibadah kurban. Tragedi ini mungkin akan selalu dikenang sebagai Idul Adha yang menyisakan kepedihan mendalam di Tanah Datar.












