Kediri, Memo
Narasi tentang Kota Kediri sebagai kota bersih dan nyaman berbanding terbalik dengan realita di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Klotok.
Setiap harinya, sampah Kota Kediri terus menggunung, mencapai 150 hingga 160 ton. Angka fantastis ini, yang rutin masuk ke TPA, menimbulkan pertanyaan krusial: seberapa efektifkah program pengelolaan sampah yang digembar-gemborkan?
Pemerintah Kota Kediri memang tak tinggal diam. Berbagai inisiatif, termasuk lomba zero waste di tingkat rukun tetangga, telah diluncurkan. Wali Kota Kediri, Vinanda Prameswati, bahkan mengakui bahwa sampah rumah tangga mendominasi volume sampah di kota ini. Ia mendorong masyarakat untuk memahami dan mengaplikasikan konsep reduce, reuse, recycle (3R).
Baca Juga: Sidang Korupsi Perangkat Desa Kediri Ungkap Dugaan Rekayasa Seleksi Libatkan Unisma
Namun, seperti yang diungkapkan Vinanda sendiri pada Kamis (5/6/2025), “Jangan sampai tahu teori, tetapi tidak tahu cara mengaplikasikannya.” Pernyataan ini secara tidak langsung menyoroti jurang antara pemahaman konsep dan implementasi di lapangan.
Kesenjangan inilah yang menjadi inti masalah. Meskipun sosialisasi digencarkan, volume sampah di Kota Kediri tidak menunjukkan tren penurunan signifikan. Lomba zero waste, yang seharusnya menjadi pemicu perubahan perilaku, terkesan hanya menjadi euforia sesaat.
Baca Juga: Ketua LPPM Unisma Mengaku Tak Tahu Teknis Ujian Perangkat Desa Kabupaten Kediri yang Berujung Gagal












