Sebelum longsor, jalan utama tersebut masih bisa dilalui kendaraan besar seperti truk sedang atau mobil pikap. Namun, jalan tersebut memang dikenal rawan rusak karena terus-menerus tergerus aliran air, terutama sejak jembatan baru dibangun menggantikan jembatan lama.
Nur mengenang kembali banjir besar sekitar 22 tahun lalu. Saat itu, ia masih kecil, dan ada tanggul pemecah air di bawah jembatan yang diyakini peninggalan Belanda, yang menurutnya efektif menahan longsor. “Baru setelah jembatan baru dibangun, dan tanggul di bawahnya dihilangkan, tanah di pinggiran sungai semakin terkikis setiap tahunnya,” jelas Nur, menyoroti perubahan yang terjadi.
Banjir yang melanda pada 19 Mei lalu kembali menyebabkan pengikisan besar di dua titik permukiman. Nur menunjukkan tumpukan bambu yang masih menghalangi sebagian jalan warga, sisa-sisa material yang terseret arus banjir. Ia juga melayangkan kritik terhadap pembangunan jalan dan jembatan beberapa tahun silam, yang menurutnya menggunakan material berkualitas rendah.
“Dulu waktu perbaikan, jalan ditimbun menggunakan tanah pasir, yang menyebabkan struktur kurang padat dan tidak kuat,” tandas Nur, menduga hal itu membuat struktur jalan berongga dan mudah ambles.












