Trenggalek, Memo | – Enam keluarga di RT 2 RW 2, Desa Sukorame, Kecamatan Gandusari, Kabupaten Trenggalek, kini menghadapi kenyataan pahit terisolasi dari dunia luar.
Akses jalan utama menuju permukiman mereka putus total setelah dihantam longsor pada Rabu (21/5). Kondisi ini secara drastis membatasi aktivitas harian warga, terutama saat malam tiba.
Satu-satunya jalan yang tersisa bagi warga adalah sebuah jalan setapak yang melintasi area kebun. Jalan ini tidak memiliki penerangan yang memadai dan menjadi sangat licin kala hujan, membuat pergerakan warga, khususnya di malam hari, penuh tantangan.
“Ya betul, seperti diisolasi saat Covid-19, mau ke mana-mana sekarang jadi susah,” keluh Nur Fadilah (52), salah satu warga yang rumahnya paling dekat dengan lokasi longsor.
Nur, yang akrab disapa Ibu Nur, menceritakan bagaimana kegiatan ekonomi dan keseharian warga sempat lumpuh total setelah jalan terputus. Suaminya, seorang pedagang sayur di Pasar Panggul, terpaksa menghentikan aktivitas jual belinya karena terputusnya akses.
Sebagai ibu rumah tangga, Nur juga merasakan dampak langsung, terutama saat berbelanja kebutuhan keluarga di kala senja. “Kalau masih pagi atau sore, saya kembali meneliti kebutuhan apa yang belum tersedia agar bisa segera mencari sebelum jalannya menjadi gelap,” ungkapnya, menggambarkan perencanaan ekstra yang kini harus ia lakukan.
Sebelum longsor, jalan utama tersebut masih bisa dilalui kendaraan besar seperti truk sedang atau mobil pikap. Namun, jalan tersebut memang dikenal rawan rusak karena terus-menerus tergerus aliran air, terutama sejak jembatan baru dibangun menggantikan jembatan lama.
Nur mengenang kembali banjir besar sekitar 22 tahun lalu. Saat itu, ia masih kecil, dan ada tanggul pemecah air di bawah jembatan yang diyakini peninggalan Belanda, yang menurutnya efektif menahan longsor. “Baru setelah jembatan baru dibangun, dan tanggul di bawahnya dihilangkan, tanah di pinggiran sungai semakin terkikis setiap tahunnya,” jelas Nur, menyoroti perubahan yang terjadi.
Banjir yang melanda pada 19 Mei lalu kembali menyebabkan pengikisan besar di dua titik permukiman. Nur menunjukkan tumpukan bambu yang masih menghalangi sebagian jalan warga, sisa-sisa material yang terseret arus banjir. Ia juga melayangkan kritik terhadap pembangunan jalan dan jembatan beberapa tahun silam, yang menurutnya menggunakan material berkualitas rendah.
“Dulu waktu perbaikan, jalan ditimbun menggunakan tanah pasir, yang menyebabkan struktur kurang padat dan tidak kuat,” tandas Nur, menduga hal itu membuat struktur jalan berongga dan mudah ambles.












