Example floating
Example floating
Agro

Ironi Negeri Agraris, Saat Lahan Menipis, Petani Berkurang, Pangan pun Jadi Rebutan

A. Daroini
×

Ironi Negeri Agraris, Saat Lahan Menipis, Petani Berkurang, Pangan pun Jadi Rebutan

Sebarkan artikel ini
Ironi Negeri Agraris, Saat Lahan Menipis, Petani Berkurang, Pangan pun Jadi Rebutan

Pengusaha industri pertanian wajib menjalankan usaha secara sehat dan etis, menjamin keuntungan yang adil bagi semua pihak—dari petani hingga konsumen—agar tak ada yang merasa dicurangi dalam rantai pasok pangan.
Namun, jika idealisme besar itu masih sulit diwujudkan karena melibatkan banyak kepentingan, mengapa tidak dimulai dari hal yang paling bisa kita lakukan: menyemarakkan budaya bertani?

Tidak semua orang harus menjadi petani skala besar. Kita bisa bertani dalam skala yang sesuai kemampuan masing-masing:

Baca Juga: Peluang Kerja Agrobisnis Skala Kecil di Era Digital , Dari Lahan Sempit, Panen Dengan Cuan Melimpah

Pemuka Masyarakat: Mampu menggerakkan warga sekitar untuk memanfaatkan lahan kosong, menanam komoditas pangan, mengelola bersama, lalu menikmati hasilnya beramai-ramai. Sebuah gambaran ideal swasembada komunal.

Warga Kota: Keterbatasan lahan bukan halangan. Masyarakat urban bisa berinovasi dengan konsep kebun vertikal di tengah kepungan bangunan beton, menanam sayuran dari balkon atau dinding rumah.

Baca Juga: Curah Hujan Picu Hama Patek, Petani Cabai Jombang Merugi

Pemuda Melek Teknologi: Kalian punya potensi mengubah citra petani. Dengan penerapan teknologi di bidang pertanian, atau yang dikenal sebagai pertanian cerdas (smart farming), segalanya menjadi lebih mudah dan efisien. Contohnya termasuk penggunaan mesin pertanian modern, drone untuk pemantauan lahan, sistem irigasi cerdas, serta sensor tanah dan cuaca.

Permakultur: Bagi pemilik pekarangan luas, Permakultur menawarkan rancangan sistem kehidupan berkelanjutan. Konsep ini berfokus pada kerja sama dengan alam—bukan melawannya—untuk mencapai produksi pangan yang efisien dan ramah lingkungan. Subak dan terasering di Bali adalah contoh klasik permakultur yang khas dan memukau.

Baca Juga: Harga Kelapa di Watulimo Meroket, Pasokan Menipis Akibat Hujan

Filosofi Bertani Skala Mini: Bukan Sekadar Hemat, tapi Kepuasan Jiwa

Bahkan tanpa teknologi canggih atau lahan luas, jangan cepat putus asa. Ketiadaan teknologi justru mengembalikan esensi bertani sebagai cara mengakrabi bumi, bercocok tanam manual. Dengan tanah pekarangan seadanya, kita masih bisa merasakan keseruan mencangkul, atau sekadar menanam cabai yang sesekali jadi pemicu inflasi, atau tomat yang kala berbuah tampak ranum.

Bertani di pekarangan rumah bukan hanya perkara mengurangi uang belanja, melainkan mampu mendatangkan kepuasan hati yang tak ternilai. Terlibat dalam proses menanam, merawat, hingga memetik hasilnya, lalu memasaknya di dapur dan menyantapnya bersama keluarga, adalah pengalaman yang mendalam.

Dengan mengikuti proses panjang hingga makanan terhidang, kita diajarkan untuk makan berkesadaran. Setiap suapan makanan mengandung cerita di baliknya: dari mana nasi berasal, bagaimana menanam padi dan tantangannya hingga panen; atau bagaimana sulitnya menanam cabai dan tomat secara organik tanpa pestisida kimia.

Bayangkan, ketika menyantap sepiring nasi lengkap dengan sayur dan lauk, betapa panjang cerita proses kehadirannya yang dapat kita cerna, yang pada akhirnya menghadirkan rasa syukur tak terhingga atas nikmat dari Sang Pemilik Alam.

Mungkin, sudah saatnya kita kembali ke akar, merangkul kembali esensi agraris ini, bahkan dimulai dari pekarangan rumah kita sendiri.