- Seorang mantan pekerja migran membawa pulang ilmu pertanian modern dari Taiwan ke tanah kelahirannya di Madiun.
- Lahan produktif di Desa Glonggong kini disulap menjadi destinasi wisata edukasi petik melon dengan sistem greenhouse.
- Inisiatif ini terbukti mampu menggerakkan ekonomi lokal sekaligus memperkenalkan teknik tani modern kepada warga sekitar.
Strategi Pertanian Modern Green House di Kabupaten Madiun
MADIUN, MEMO –
Transformasi ekonomi pedesaan sering kali lahir dari tangan dingin mereka yang berani membawa perubahan, seperti yang dilakukan oleh seorang mantan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) asal Kabupaten Madiun.
Baca Juga: Kejari Kota Kediri Mutasi, Theresia Tri Widorini Geser Berganti Rivo Chandra Makarupa
Sepulangnya dari Taiwan, pria bernama Sudarno ini tidak memilih untuk berleha-leha dengan uang tabungannya, melainkan justru berinvestasi pada sektor agrowisata. Di Desa Glonggong, ia mendirikan destinasi wisata petik melon premium yang kini menjadi magnet baru bagi pelancong lokal.
Langkah ini bukan sekadar bisnis, melainkan wujud nyata transfer teknologi pertanian dari luar negeri ke pelosok nusantara.
Baca Juga: Yai Mim Resmi Laporkan Dugaan Penganiayaan Oleh Oknum Karyawan ke Polresta Malang Kota
Memanfaatkan teknologi greenhouse atau rumah kaca, Sudarno menanam berbagai varietas melon unggulan yang jarang ditemui di pasar tradisional.
Pengalamannya bekerja bertahun-tahun di sektor perkebunan Taiwan memberikannya pemahaman mendalam mengenai manajemen nutrisi dan pengendalian hama yang presisi. Dengan sistem ini, buah melon yang dihasilkan memiliki kualitas premium, mulai dari tekstur daging yang renyah hingga tingkat kemanisan atau brix yang konsisten tinggi.
Pengunjung tidak hanya datang untuk membeli, tetapi juga merasakan pengalaman langsung memilih dan memetik buah dari pohonnya di lingkungan yang bersih dan tertata.
Keberhasilan agrowisata ini memberikan dampak domino bagi kesejahteraan warga di Desa Glonggong. Selain membuka lapangan kerja baru bagi pemuda tani setempat, destinasi ini juga memicu munculnya geliat ekonomi di sektor pendukung seperti UMKM kuliner dan parkir.
Sudarno menekankan bahwa kunci utama keberhasilannya adalah keberanian untuk meninggalkan pola tanam konvensional yang sangat bergantung pada cuaca.
Dengan greenhouse, ia bisa mengatur siklus panen sepanjang tahun tanpa perlu khawatir akan serangan hama musiman atau hujan yang berlebihan, sehingga pasokan untuk pengunjung wisata edukasi tetap terjaga.
Daya tarik utama dari lokasi ini adalah transparansi kualitas. Wisatawan yang datang diperbolehkan mencicipi sampel buah sebelum memutuskan untuk memetik sendiri.
Harga yang ditawarkan pun kompetitif untuk kelas melon premium, yang sering kali dihargai sangat mahal di supermarket kota besar.
Banyak pengunjung dari luar kota sengaja datang ke Madiun hanya untuk merasakan sensasi memetik buah melon segar sembari belajar mengenai teknik penyiraman otomatis dan pemupukan berbasis teknologi yang diterapkan di sana.
Inisiatif Sudarno menjadi bukti bahwa sektor pertanian jika dikelola dengan sentuhan teknologi dan kreativitas mampu menjadi profesi yang menjanjikan.
Ia berharap langkahnya dapat menginspirasi pekerja migran lainnya untuk kembali ke desa dan membangun daerah asal dengan bekal pengalaman internasional. Agrowisata petik melon di Desa Glonggong kini tidak hanya menjadi kebanggaan Madiun, tetapi juga percontohan bagi pengembangan desa wisata berbasis pangan di Jawa Timur.
Ke depannya, Sudarno berencana memperluas area tanam dan menambah varietas buah lain untuk memperkaya pengalaman wisatawan. Dukungan dari pemerintah daerah dan komunitas diharapkan dapat terus mengalir agar literasi pertanian modern semakin tersebar luas ke seluruh pelosok desa.
FAQ
Lokasinya berada di Desa Glonggong, Kecamatan Dolopo, Kabupaten Madiun, Jawa Timur.
Melon memiliki kualitas premium dengan tingkat kemanisan yang tinggi, tekstur lebih renyah, dan minim residu pestisida karena lingkungan tumbuh yang terkontrol.
Sudarno, seorang warga lokal yang merupakan mantan pekerja migran (TKI) yang pernah bekerja di Taiwan.
Ya, pengunjung bebas memilih dan memetik sendiri buah melon langsung dari pohonnya sebagai bagian dari pengalaman wisata edukasi.












