Example floating
Example floating
Home

Heboh! Gus Durian Menguak Rahasia Politikus Saat Pemilu!

Alfi Fida
×

Heboh! Gus Durian Menguak Rahasia Politikus Saat Pemilu!

Sebarkan artikel ini
Heboh! Gus Durian Menguak Rahasia Politikus Saat Pemilu!
Heboh! Gus Durian Menguak Rahasia Politikus Saat Pemilu!

MEMO

Alissa Qotrunnada Munawaroh Wahid, Koordinator Nasional Jaringan Gusdurian, mengungkapkan pandangan tajamnya terhadap dinamika perilaku politikus yang kerap memanfaatkan nama ‘Gusdurian’ demi mendapatkan dukungan menjelang pemilu.

Baca Juga: Pakar Hukum Sebut Rekrutmen Perangkat Desa Kabupaten Kediri Tahun 2023 Cacat Hukum

Namun, melalui kritik tersebut, Alissa menyoroti hilangnya keterlibatan ‘Gusdurian’ dan konsep ‘rakyat’ saat politikus telah berhasil meraih posisi dan sedang berupaya membagi-bagi kekuasaan. Dalam konteks ini, artikel ini mengulas bagaimana fenomena ini mencerminkan kompleksitas hubungan antara politikus, rakyat, dan warisan pemikiran Gus Dur.

Alissa Wahid: Gus Durian Hanya ‘Teman’ Saat Pemilu, Hilang saat Berkuasa

Alissa Qotrunnada Munawaroh Wahid, Koordinator Nasional Jaringan Gusdurian, mengungkapkan sindiran tajam terhadap perilaku politikus yang kerap hanya menyebut nama ‘Gusdurian’ ketika mereka memerlukan dukungan suara menjelang pemilihan umum.

Baca Juga: PSHWTM Ranting Rungkut Surabaya Bagikan 1.903 Takjil, Usung Tema "Silat Menyehatkan Raga, Berbagi Menguatkan Jiwa"

Namun, ia dengan tegas menyatakan bahwa istilah ‘Gusdurian’ dan ‘rakyat’ seringkali terlupakan ketika para politikus tersebut berhasil terpilih dan tengah mengatur pembagian kekuasaan.

Dalam pernyataannya yang dikeluarkan melalui laman resmi NU, Alissa menyuarakan keprihatinannya terhadap kecenderungan para politikus yang hanya mengaitkan nama Gusdurian dengan kepentingan mereka ketika sedang menikmati fasilitas negara atau dalam proses membagi-bagi posisi penting.

Baca Juga: Kekayaan Alam Jawa Timur: Daerah Penghasil SDA Lengkap

Namun, ia menegaskan bahwa saat waktunya tiba untuk meraih dukungan massal dalam pemilihan umum, baru lah nama Gusdurian dipanggil bersama-sama dengan rakyat.

Sebagai anak sulung dari Presiden ke-4 Republik Indonesia, Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Alissa memiliki pandangan bahwa fenomena ini muncul karena elite politik hanya mengingat rakyat pada saat-saat menjelang pemilihan umum.

Dia merasa bahwa para elit politik sibuk memperhatikan kepentingan rakyat hanya karena mereka sedang bersiap untuk bersaing demi memegang kekuasaan atas nama rakyat.

Meskipun demikian, Alissa melihat sisi positif dalam penggunaan nama ‘Gusdurian’ oleh politikus jelang Pemilu 2024. Baginya, hal ini mengindikasikan bahwa semakin banyak orang yang merasa dekat dan terhubung dengan nilai-nilai Gus Dur.

Ia menganggapnya sebagai tanda bahwa warisan pemikiran Gus Dur masih terus menginspirasi dan berada di samping rakyat.

Menelusuri Kompleksitas Dinamika Politik Melalui Kritik Alissa Wahid

Alissa juga menegaskan bahwa para pengikut ajaran Gus Dur, yang disebut sebagai Gusdurian, memiliki pemahaman yang lebih mendalam. Baginya, pendekatan kepada keluarga Gus Dur tidak akan cukup untuk mendapatkan dukungan suara dari para Gusdurian.

Sebagai pengikut Gus Dur, mereka telah dibekali dengan panduan untuk memilih pemimpin yang sesuai dengan prinsip-prinsip ideal yang diajarkan oleh Gus Dur.

Baru-baru ini, terlihat beberapa pihak mendekati keluarga Gus Dur menjelang Pemilu. Sebagai contoh, partai NasDem secara terang-terangan menyatakan bahwa Putri Gus Dur, Yenny Wahid, memenuhi syarat sebagai pendamping potensial untuk calon presiden Anies Baswedan.

Selain itu, bakal calon presiden dari PDIP, Ganjar Pranowo, juga terlihat menjenguk Ibu Gus Dur, Sinta Nuriyah, di rumahnya di Ciganjur, Jakarta Selatan pada Minggu (13/8) yang lalu.

Ganjar menjelaskan bahwa kunjungannya tersebut adalah bentuk penghormatan dari seorang santri kepada istri ulama yang sangat dihormati, sebagai bagian dari tradisi menghormati guru atau ulama dalam budaya pesantren.

Peran Gus Durian dalam Dinamika Politik: Antara Pemilihan Umum dan Kekuasaan

Dengan demikian, kesimpulan dari perbincangan ini adalah bahwa dinamika ini merefleksikan tata nilai politik yang perlu dievaluasi secara kritis. Penggunaan nama ‘Gusdurian’ tidak boleh hanya menjadi alat manipulatif dalam permainan politik, tetapi harus disertai dengan pemahaman dan komitmen terhadap nilai-nilai yang dipegang oleh para pengikutnya.

Dalam konteks lebih luas, ini mendorong kita untuk memikirkan kembali relasi antara politik, rakyat, dan pemikiran tokoh-tokoh ulama, serta bagaimana semuanya berkolaborasi dalam pembangunan bangsa yang lebih baik.