Di tengah reruntuhan dan hamparan lumpur kelabu, harapan itu masih bersemi. Dusun Kebonagung, yang biasanya tenang dengan lanskap perbukitan yang hijau, kini diselimuti duka setelah amukan tanah longsor memorak-porandakan kediaman warganya. Enam nyawa masih dalam dekapan bumi, dan akses menuju dusun itu, urat nadi kehidupan puluhan keluarga, terputus total.
Selasa pagi (20/05/2025), mentari Kediri mulai menghangatkan bumi, namun dingin masih terasa di Desa Depok, Kecamatan Bendungan. Bukan hanya dinginnya hawa pegunungan, tapi juga dinginnya kecemasan yang menyelimuti hati para keluarga yang menanti kabar orang terkasih. Jalan utama menuju Kebonagung bak labirin tanah dan pepohonan tumbang, saksi bisu dahsyatnya terjangan longsor sehari sebelumnya.
Baca Juga: TMMD ke-127 Tak Hanya Bangun Infrastruktur, Pemkab Kediri Juga Bekali Warga Olahan Ikan Lele
Di garis depan perjuangan menembus isolasi ini berdiri Nanang Pujo, Koordinator Pos Basarnas Trenggalek. Wajahnya menyimpan guratan lelah namun sorot matanya penuh determinasi. Bersama 135 personel gabungan, ia memimpin operasi yang bukan hanya soal mencari jasad, tapi juga tentang membuka kembali harapan bagi sebuah komunitas yang terenggut kehidupannya.
“Untuk mencapai titik longsor, kami harus berjalan kaki hampir satu jam,” tutur Nanang, suaranya berbaur dengan deru mesin alat berat yang baru tiba di kaki bukit. “Medannya sangat menantang. Tanah masih labil, setiap langkah harus diperhitungkan.”
Perjalanan menuju titik nol bukan sekadar adu fisik, tapi juga adu strategi. Tiga alat berat didatangkan, monster-monster besi yang diharapkan mampu mengoyak timbunan tanah yang menggunung. Namun, medan curam dan sempitnya jalur memaksa operator bekerja ekstra hati-hati. Setiap gesekan bucket adalah harapan yang terkadang tersendat bebatuan dan batang pohon raksasa.
Di antara hiruk pikuk alat berat dan komando petugas, terlihat wajah-wajah cemas warga sekitar. Mereka tak bisa berbuat banyak selain menunggu di kejauhan, mengirimkan doa-doa lirih yang semoga saja didengar semesta. Kabar dari Kebonagung bagai tetesan air di gurun kerinduan.












