Pagi buta, sekitar pukul 06.00 WIB, prosesi dimulai. Para sesepuh dan juru kunci Gunung Kelud memulai perjalanan spiritual dari area parkir menuju kawah. Mereka membawa aneka sesaji tradisional: sekul suci (nasi putih), polo pendhem (umbi-umbian), ayam cemani, ayam jawa, pisang raja, serta hasil bumi lainnya.
Khusus ayam cemani dan ayam jawa dilepas di sekitar kawah, sebuah ritual yang diyakini sebagai “simbol pengorbanan dan penyucian alam.” Setelah prosesi larung selesai, acara berlanjut dengan doa bersama dan arak-arakan di lokasi wisata.
Perpaduan Budaya dan Kebangkitan Ekonomi Lokal
Kemeriahan ritual semakin terasa di rest area Titik Pertama, tempat 25 gunungan tumpeng hasil bumi dipersembahkan. Gunungan-gunungan yang penuh makanan lezat itu kemudian dinikmati bersama oleh pengunjung dan warga, menciptakan suasana kebersamaan dan kekeluargaan.
Tak hanya itu, beragam pertunjukan seni tradisional seperti reog, tari, dan jaranan turut memeriahkan suasana, menambah daya tarik budaya acara tersebut.
Baca Juga: Istri Jadi Caleg, Suami Diduga Gunakan Uang Suap Rp2 Miliar untuk Dana Kampanye
Mariana Dwi Noventi, Kepala Desa Sugihwaras, menjelaskan bahwa ritual Larung Sesaji Gunung Kelud ini memang rutin diadakan setiap tahun pada bulan Suro dalam penanggalan Jawa. Lebih dari sekadar pelestarian budaya, ia melihat acara ini sebagai sarana vital untuk memperkuat hubungan spiritual masyarakat dengan alam, serta memanjatkan harapan keselamatan Gunung Kelud dari bencana.
Namun, ada visi yang lebih besar di balik tradisi ini. Mariana berharap ritual ini mampu menjadi katalis untuk menghidupkan kembali sektor pariwisata Gunung Kelud pasca-pandemi Covid-19. Peningkatan kunjungan wisatawan, menurutnya, sangat krusial untuk menggerakkan roda ekonomi warga setempat, termasuk pelaku UMKM, sektor wisata, dan terutama petani nanas sebagai komoditas unggulan daerah tersebut.
Dengan demikian, Larung Sesaji bukan hanya cerminan keimanan, tetapi juga strategi cerdas untuk kesejahteraan komunitas.












