Pendapatan turun 11,4%, dari Rp50,01 triliun (Juni 2024) menjadi Rp44,3 triliun (Juni 2025).
Laba kotor turun menjadi Rp3,7 triliun, dari Rp5,06 triliun di tahun sebelumnya.
Laba usaha anjlok menjadi Rp513,7 miliar, dari Rp1,613 triliun.
Selain itu, GGRM juga mencatat kerugian kurs sebesar Rp1,7 miliar dan penyusutan total aset menjadi Rp79,8 triliun. Heru menambahkan, perusahaan telah meluncurkan beberapa produk baru pada tahun 2024 sebagai upaya penyesuaian terhadap kondisi pasar yang lesu. Ia menegaskan, GGRM akan terus beradaptasi dengan perkembangan ketentuan cukai dan penanganan rokok ilegal.
Isu PHK massal di GGRM sebelumnya merebak setelah beredar video acara perpisahan buruh Gudang Garam, yang menambah daftar kabar kurang baik di sektor ketenagakerjaan, pasca-pailitnya Sritex yang menyebabkan ribuan karyawan di-PHK.












