MEMO – Generasi muda Indonesia semakin membuktikan bahwa mereka bukan sekadar pengguna teknologi, tetapi juga pemain utama dalam era kecerdasan buatan (AI). Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid, menegaskan bahwa Indonesia tidak boleh hanya menjadi pasar bagi teknologi asing, tetapi harus aktif dalam menciptakan inovasi.
“Kita tidak bisa terus-menerus hanya menjadi konsumen teknologi luar. Indonesia harus memiliki peran besar dalam revolusi AI, dan saya melihat langsung bahwa anak muda kita memiliki potensi luar biasa untuk menghadapi tantangan ini,” ujar Meutya dalam konferensi pers pada Rabu (19/2/2025).
Baca Juga: Kemkomdigi: Teknologi Canggih Ini Bawa Dampak Besar bagi Ekonomi & Sosial
Dalam kesempatan tersebut, Meutya tidak hanya memberikan apresiasi, tetapi juga memotivasi generasi muda untuk terus berinovasi. Salah satu peserta kompetisi bahkan memperkenalkan aplikasi berbasis AI yang dikembangkan untuk menganalisis pola hidup sehat masyarakat.
“Ini luar biasa! Aplikasi seperti ini bisa membawa dampak positif di tengah masyarakat. Tantangan apa yang paling besar saat kalian mengembangkannya?” tanya Meutya dengan antusias.
Baca Juga: Prediksi Drastis Ahli, 99,9% Manusia Punah dalam 100 Tahun!
Diskusi pun semakin menarik ketika para peserta berbagi pengalaman mereka, termasuk kendala teknis dan tantangan dalam menyempurnakan algoritma AI. Tidak hanya siswa laki-laki, peserta perempuan juga menunjukkan kepercayaan diri mereka dalam mempresentasikan inovasi yang telah dikembangkan.
Selain itu, Meutya juga menekankan bahwa peran perempuan dalam industri teknologi harus semakin diperkuat.
Baca Juga: TMMD ke-127 Tak Hanya Bangun Infrastruktur, Pemkab Kediri Juga Bekali Warga Olahan Ikan Lele
“Saya melihat semakin banyak perempuan yang terjun ke bidang AI, dan ini adalah tren yang harus kita dukung terus-menerus!” katanya dengan penuh semangat.
Para finalis kemudian mempresentasikan hasil karya mereka, yang dikembangkan dengan memanfaatkan teknologi AI berbasis infrastruktur AWS. Dari 30.000 peserta yang mendaftar, hanya lima tim terbaik yang berhasil lolos ke babak final.
Namun, Meutya menegaskan bahwa kompetisi ini bukan hanya sekadar mencari pemenang.
“Anak-anak Indonesia memiliki potensi besar dan karya-karya mereka tidak kalah dengan inovasi dari negara lain. Yang terpenting adalah terus belajar, berani mencoba, dan menciptakan solusi digital berbasis AI yang dapat memberikan manfaat bagi masyarakat luas,” pungkasnya.












