Prajurit Kepala Cpm Dedi: Teknisi pemusnahan berpengalaman, berada dekat titik ledakan saat insiden terjadi.
Prajurit Kepala Cpm Rudi: Bertugas mengawasi alat pemicu peledakan untuk eksekusi pemusnahan.
Prajurit Kepala Cpm Asep: Anggota tim yang membantu pengangkutan dan pengaturan amunisi sebelum pemusnahan.
Prajurit Kepala Cpm Jajang: Personel pendukung logistik dan pengamanan lapangan.
Budi Santoso (47 tahun): Warga sipil, tinggal dekat lokasi kejadian, diduga berada di luar perimeter steril saat ledakan.
Siti Aminah (38 tahun): Ibu rumah tangga, melintas di sekitar lokasi kejadian saat ledakan terjadi.
Baca Juga: Motif Cemburu, Pria di Tulungagung Nekat Bakar Rumah Pacar Hingga Kerugian Ditaksir Rp 300 Juta
Dedi Kurniawan (29 tahun): Penduduk lokal, buruh harian, berada di area perkebunan dekat lokasi ledakan.
Maya Suryani (25 tahun): Warga sipil, tinggal di pemukiman terdekat, mengalami luka berat dan meninggal dalam perjalanan ke fasilitas medis.
Saat ini, pihak kepolisian dan tim investigasi dari militer tengah bekerja keras menyelidiki penyebab utama dari insiden tragis ini. Dugaan awal mengarah pada kondisi bahan peledak yang telah lama tidak aktif namun masih memiliki potensi ledakan yang tinggi dan tidak terkendali.
Sementara itu, pihak TNI dan instansi terkait menyatakan komitmen untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap Standar Operasional Prosedur (SOP) dalam setiap kegiatan pemusnahan amunisi di masa mendatang, guna mencegah terulangnya kejadian serupa.
Pemerintah juga menyampaikan rasa duka cita yang mendalam atas jatuhnya korban jiwa dalam tragedi ini. Pihak berwenang memastikan akan memberikan hak-hak dan santunan yang layak kepada seluruh keluarga korban, baik dari kalangan militer maupun masyarakat sipil.
Masyarakat di sekitar wilayah latihan atau pembuangan amunisi milik militer diimbau untuk selalu menjaga jarak dan menghindari area tersebut demi keselamatan diri, mengingat potensi risiko yang mungkin timbul sewaktu-waktu.












