Sebaliknya, ia menjelaskan bahwa perubahan ini difokuskan pada penghapusan “hambatan” yang ada, sehingga para karyawan dapat lebih “berkonsentrasi pada pekerjaan yang bersifat kreatif dan pemecahan masalah yang esensial, alih-alih terjebak dalam tugas-tugas yang berulang dan monoton.”
“AI bukan sekadar alat untuk meningkatkan produktivitas,” ujar von Ahn dengan keyakinan.
Ia melanjutkan dengan pandangan optimis bahwa “AI justru membantu kami semakin mendekati misi utama perusahaan.”
Kehadiran ‘pekerja’ berbasis AI ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas pengajaran dan menghasilkan konten dalam skala yang jauh lebih besar. Menurut von Ahn, pencapaian skala tersebut secara manual akan menjadi tantangan yang nyaris mustahil.
“Salah satu keputusan paling tepat yang kami ambil baru-baru ini adalah mengganti alur kerja pembuatan konten manual yang lambat dengan proses yang didukung oleh AI. Tanpa AI, kami akan membutuhkan waktu puluhan tahun untuk mengembangkan skala konten kami agar dapat menjangkau lebih banyak pelajar. Kami memiliki tanggung jawab kepada para pelajar kami untuk menyediakan konten ini secepat mungkin,” pungkasnya.
Langkah Duolingo ini menjadi sinyal kuat akan semakin masifnya adopsi AI dalam berbagai aspek bisnis, termasuk potensi dampaknya terhadap pasar tenaga kerja di masa depan.
Baca Juga: 5 Pekerjaan Freelance Populer untuk Tambah Penghasilan di Era Digital












