Untuk jenis busana yang dipakai tergolong sangat beragam. Seperti barisan emak emak lebih dominan mengenakan seragam kebaya Jawa. Dan ada juga yang memakai baju casual. Untuk yang berseragam hanya dari kelompok kader desa .
Sementara dari kelompok peserta bapak bapak dan pemuda ada yang memakai seragam agak nyeleneh. Yaitu memakai kostum wayang orang dari tokoh hanoman. Sebagian ada juga yang mengenakan busana kejawen ala kraton. Serta pakaian warok Ponorogo.

Dibalik beragam busana yang dikenakan para warga tersebut ternyata ada sisi filosofinya. Yaitu menjunjung tinggi rasa kebhinekaan dan membangun kebersamaan meskipun berbeda warna.
” Kita menanamkan rasa toleransi dan kebersamaan antar warga dengan harapan agar tercipta lingkungan yang kondusif dan selalu guyup rukun menuju desa yang gemah ripah loh jinawi dijauhkan dari bala’ ,” harapan Sudariyono selaku pamong blok RW 02.

Baca Juga: PC Muhammadiyah Kertosono Besok Tunaikan Sholat Ied Di Lima Titik
Dengan kegiatan ini masih kata Sudariyono semoga bisa berjalan rutin sampai kapanpun. Harapanya bisa dipertahankan oleh generasi penerus di lingkungan RW 02. Dan bisa dijadikan tolak ukur di lingkungan RW lainnya sebagai wujud tindakan ” conta tanah air”.
Seperti tahun sebelumnya, sehabis upacara diteruskan acara makan bersama yang telah disediakan oleh panitia acara. Meskipun menunya sederhana tapi dengan rasa kebersamaan semuanya terasa lezat. ( Adi)












