“Kita harus membangun kontra jaringan. Ketika mereka bergerak, kita harus melawan dengan intelijen yang tersebar di seluruh wilayah,” tambahnya.
Ia juga menyoroti kerawanan masuknya narkotika sintetis dari berbagai negara seperti Myanmar, Afghanistan, hingga Amerika Latin. Narkotika sering kali masuk melalui jalur laut, terutama di wilayah Selat Karimata dan Kepulauan Riau yang menjadi titik rawan penyelundupan.
Martinus menekankan bahwa masyarakat harus menyadari bahaya nyata dari peredaran narkotika. Ia mengingatkan bahwa keuntungan dari bisnis ini hanya bersifat semu, sementara dampaknya menciptakan kejahatan lain yang merusak tatanan sosial, seperti munculnya “kampung narkoba.”
“Ketergantungan pasar narkotika itu tergantung dari kesadaran masyarakat sendiri. Indonesia sangat rentan terhadap intervensi jaringan narkotika,” ujarnya.












