“Yang bersangkutan datang seorang diri dengan keluhan rasa nyeri yang hebat, area vitalnya membengkak, dan kesulitan saat buang air kecil,” ungkap Purwanto, Kepala Seksi Penyelamatan dan Evakuasi Damkar Ngawi, seperti dikutip dari laporan Herald Jateng.
Kendati menyadari betul dirinya memerlukan bantuan medis, Sur justru memilih mendatangi kantor Damkar, alih-alih fasilitas kesehatan seperti rumah sakit. Diduga kuat, rasa malu menjadi pemicunya. Mungkin pula, ia memiliki keyakinan bahwa tim Damkar, yang kerap berhasil melepaskan cincin dari jari yang membengkak atau mengeluarkan benda asing dari saluran toilet, juga mampu mengatasi masalah benda logam di area yang sangat sensitif.
Namun, realitas berkata lain. Tim Damkar Ngawi menyadari sepenuhnya batasan kemampuan mereka. Peralatan bedah dan obat bius jelas tidak tersedia. Menyikapi kondisi darurat tersebut, Sur segera dilarikan ke Rumah Sakit Widodo, Ngawi, untuk mendapatkan penanganan medis yang lebih komprehensif.
Di bawah sorot lampu ruang operasi dan pengawasan tim dokter, pipa yang menjadi sumber masalah itu akhirnya berhasil dikeluarkan. Sebuah gerinda kecil menjadi alat bantu dalam proses pelepasan tersebut, sementara anestesi lokal diberikan untuk meminimalisir rasa sakit pada tubuh renta Sur.












