MEMO.CO.ID, Hujan deras yang mengguyur wilayah Kabupaten Probolinggo sejak Sabtu sore (17/1/2026) tidak hanya meninggalkan genangan air yang melumpuhkan aktivitas, tetapi juga menciptakan situasi hidup dan mati bagi seorang warga di Desa Brani Wetan. Di tengah kepungan banjir yang memutus akses utama, sebuah aksi kemanusiaan spontan pecah ketika puluhan warga bahu-membahu mengevakuasi seorang ibu hamil yang tengah berjuang melawan kontraksi hebat. Tanpa peralatan medis yang memadai dan hanya mengandalkan kekuatan fisik serta solidaritas, mereka menerjang arus air demi memastikan sang ibu mencapai ambulans yang tertahan di titik aman.
Evakuasi Darurat Ibu Hamil di Desa Brani Wetan
Bencana banjir yang melanda Kecamatan Maron kali ini memang tergolong ekstrem. Luapan sungai yang melampaui batas tanggul menyebabkan jalur-jalur transportasi di Desa Brani Wetan tidak dapat dilalui oleh kendaraan roda empat, termasuk armada ambulans. Padahal, saat itu waktu seolah mengejar keselamatan seorang ibu hamil tua yang membutuhkan penanganan medis segera karena tanda-tanda persalinan sudah mulai muncul.
Baca Juga: Kerugian 30 Juta Akibat Rumah Pensiunan PNS di Blitar Dibobol Maling Saat Kosong
Dalam kondisi normal, ambulans seharusnya bisa menjangkau rumah warga dalam hitungan menit. Namun, ketinggian air yang signifikan membuat mesin kendaraan berisiko mati jika dipaksakan masuk. Menyadari bantuan profesional terhambat oleh alam, warga setempat menolak untuk menyerah pada keadaan. Spontanitas warga muncul ketika melihat kondisi sang ibu yang sudah tidak mampu lagi berjalan kaki menuju titik penjemputan.
Dengan peralatan seadanya, warga memutuskan untuk menggunakan kasur sebagai tandu darurat. Langkah ini diambil guna menjaga posisi sang ibu tetap stabil saat melewati genangan air yang cukup tinggi dan licin. Puluhan pria dewasa terlihat saling mengunci tangan, menahan beban bersama, dan berhati-hati melintasi jembatan desa yang permukaannya sudah tertutup aliran air yang deras.
Baca Juga: Karangan Bunga Dukungan Maidi Banjiri PSC Madiun Hingga Omzet Pengrajin Melejit
Kejadian ini menggambarkan betapa kuatnya ikatan sosial di pedesaan Probolinggo saat menghadapi krisis. Meski risiko terpeleset atau terseret arus sangat nyata, keselamatan ibu dan janin menjadi prioritas utama bagi mereka. Afandi, salah satu warga yang terlibat dalam aksi tersebut, menceritakan bahwa situasi saat itu sangat tegang karena air terus naik sementara kontraksi sang ibu semakin intens. Inisiatif mengangkat pasien bersama kasurnya adalah satu-satunya cara tercepat yang bisa dipikirkan saat itu agar pasien tidak terkena air banjir secara langsung.
Upaya melelahkan tersebut akhirnya membuahkan hasil. Setelah menempuh jarak yang cukup menantang di tengah kepungan banjir, rombongan warga berhasil mencapai lokasi ambulans yang bersiaga di perbatasan desa yang lebih tinggi. Pasien segera diserahkan kepada petugas medis untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut di fasilitas kesehatan terdekat. Aksi heroik ini pun menjadi pembicaraan hangat sebagai bukti nyata kearifan lokal dalam menghadapi situasi darurat bencana.
Baca Juga: Strategi Kemenkes Pasok 60 Ribu Susu Pasien TB Banyuwangi demi Target Sembuh 95 Persen
FAQ
Kejadian berlangsung di Desa Brani Wetan, Kecamatan Maron, Kabupaten Probolinggo.
Akses jalan terendam banjir yang cukup tinggi akibat luapan sungai, sehingga kendaraan roda empat tidak dapat melintas.
Warga menggunakan kasur sebagai tandu darurat agar pasien tetap stabil dan kering saat digotong melewati banjir.
Pasien berhasil mencapai ambulans dan segera dibawa ke fasilitas kesehatan untuk penanganan medis persalinan.












