Example floating
Example floating
Daerah

Harga Cabai Rawit di Sumenep Meroket Tembus 80 Ribu Dampak Cuaca Buruk Sepekan

Ferdi Ragil
×

Harga Cabai Rawit di Sumenep Meroket Tembus 80 Ribu Dampak Cuaca Buruk Sepekan

Sebarkan artikel ini

Memo.co.id – Masyarakat di ujung timur Pulau Madura kini harus merogoh kocek lebih dalam untuk memenuhi kebutuhan bumbu dapur harian mereka. Fenomena harga cabai rawit di Sumenep meroket kembali terjadi menyusul guyuran hujan lebat yang melanda wilayah tersebut selama satu minggu terakhir. Kondisi cuaca ekstrem ini tidak hanya mengganggu aktivitas warga, tetapi juga memukul sektor hulu pertanian hingga distribusi pangan. Berdasarkan pantauan di sejumlah pasar induk, kenaikan harga ini terjadi secara bertahap namun signifikan, hingga mencapai level yang cukup memberatkan bagi para pelaku usaha mikro dan ibu rumah tangga yang sangat bergantung pada komoditas pangan ini.

Faktor Utama Harga Cabai Rawit di Sumenep Meroket

Dampak Hujan Sepekan Terhadap Stok Pangan Cuaca buruk sering kali menjadi momok menakutkan bagi stabilitas harga pangan nasional, tidak terkecuali di Madura. Sejak seminggu terakhir, intensitas hujan yang tinggi di Kabupaten Sumenep telah menyebabkan banyak lahan pertanian terendam. Bagi petani cabai, air hujan yang berlebihan adalah musuh utama karena dapat memicu kerontokan bunga dan serangan jamur yang menyebabkan buah cabai membusuk sebelum sempat dipetik. Kondisi inilah yang mengawali rantai masalah hingga harga cabai rawit di Sumenep meroket tajam.

Baca Juga: Dansatgas TMMD ke-127 Sekaligus Dandim 0809/Kediri Tinjau Langsung Sasaran Pembangunan di Desa Gadungan

Ketersediaan barang di tingkat pengepul lokal menurun drastis karena hasil panen yang tidak maksimal. Banyak petani yang terpaksa memanen cabai lebih awal untuk menghindari kerugian yang lebih besar, namun kualitas cabai yang dihasilkan justru menurun. Akibatnya, pasokan cabai segar berkualitas tinggi menjadi barang langka di pasaran, yang secara otomatis mendorong hukum pasar: stok menipis, permintaan tetap tinggi, maka harga pun melambung.

Analisis Kenaikan Harga di Pasar Tradisional Memasuki pertengahan pekan ini, para pedagang di Pasar Anom dan Pasar Bangkal melaporkan lonjakan harga yang cukup fantastis. Jika sebelumnya cabai rawit berada di kisaran Rp40.000 hingga Rp50.000 per kilogram, kini harganya sudah menembus angka Rp80.000 per kilogram. Kenaikan hampir dua kali lipat ini terjadi dalam waktu yang sangat singkat. Pedagang mengaku tidak memiliki pilihan lain selain menaikkan harga jual karena harga modal dari tingkat distributor sudah melambung tinggi.

Baca Juga: Gaya Klasik Wali Kota Kediri Luncurkan VW Safari City Tour Promosikan Potensi Wisata dan Ekonomi Lokal Untuk Tarik Turis Domestik

Kenaikan ini tidak hanya terjadi pada cabai rawit. Beberapa jenis cabai lain seperti cabai merah besar dan cabai keriting juga mengalami tren kenaikan, meski tidak se-ekstrem cabai rawit merah. Hal ini menciptakan efek domino pada harga bumbu dapur lainnya, mengingat cabai adalah salah satu kebutuhan pokok dalam tradisi kuliner masyarakat lokal Sumenep.

Keluhan Pedagang dan Strategi Bertahan Konsumen Kenaikan drastis ini membawa dilema besar bagi para pedagang eceran. Banyak pembeli yang mulai mengurangi jumlah pembelian mereka. Jika biasanya konsumen membeli satu kilogram, kini mereka hanya membeli seperempat atau bahkan hanya beberapa puluh ribu rupiah saja. Penurunan volume penjualan ini berdampak langsung pada omzet harian para pedagang pasar yang kian menyusut.

Baca Juga: Cari Keadilan 4 Korban Petugas SPBU Parengan Datangi Polres Tuban Tolak Damai Dengan Pelaku ASN Penganiayaan Secara Tegas

Di sisi konsumen, strategi penghematan mulai dilakukan. Para ibu rumah tangga mulai beralih menggunakan cabai kering atau mengurangi tingkat kepedasan masakan mereka. Bagi pengusaha kuliner seperti warung makan dan pedagang penyetan, fenomena harga cabai rawit di Sumenep meroket adalah tantangan serius bagi margin keuntungan mereka. Menaikkan harga menu berisiko ditinggal pelanggan, namun mempertahankan harga lama berarti harus siap menanggung kerugian biaya bahan baku.

Prediksi Ketahanan Stok Menuju Bulan Depan Pemerintah daerah melalui dinas terkait diharapkan segera melakukan langkah antisipasi, seperti operasi pasar atau penguatan rantai pasok dari luar daerah yang tidak terdampak cuaca ekstrem. Jika hujan terus mengguyur hingga minggu depan, dikhawatirkan harga akan terus merangkak naik dan sulit untuk dikendalikan. Ketergantungan pada hasil tani lokal memang memberikan dampak positif saat panen raya, namun menjadi titik lemah saat cuaca tidak bersahabat.

Koordinasi antara distributor dan penyedia jasa logistik juga perlu ditingkatkan agar distribusi cabai dari luar Pulau Madura tidak terkendala. Kestabilan harga pangan menjadi kunci penting untuk menjaga inflasi daerah tetap terkendali di tengah ketidakpastian iklim global yang saat ini sedang terjadi di wilayah Jawa Timur dan sekitarnya.

FAQ

Kenaikan dipicu oleh curah hujan tinggi selama sepekan yang merusak tanaman petani dan menghambat proses distribusi ke pasar tradisional.

Berdasarkan pantauan terbaru, harga telah menembus angka Rp80.000 per kilogram, naik hampir 100% dari harga normal.

Ya, cabai merah besar dan cabai keriting juga mengalami kenaikan harga, namun tidak se-signifikan cabai rawit merah.

Biasanya dilakukan pemantauan stok oleh dinas terkait dan potensi operasi pasar jika harga terus melonjak di atas batas kewajaran.