Jakarta, Memo
Presiden Republik Indonesia baru-baru ini menjadi sorotan setelah memberikan pidato yang memadukan ketegasan, kejujuran personal, dan visi pembangunan nasional, terutama terkait industri pertahanan dan otomotif dalam negeri.
Dalam pidatonya, Presiden menyinggung kerugian finansial yang sangat besar akibat “serangan non-fisik” serta memberikan perintah tegas kepada para pejabat dan perwira TNI untuk meninggalkan mobil impor dan segera menggunakan kendaraan taktis buatan dalam negeri, Maung.
Kerugian Rp900 Triliun: Sebuah ‘Serangan’ yang Menghabiskan Dana Pembangunan
Presiden mengawali pidatonya dengan menyoroti kerugian yang dialami negara, menyebutnya sebagai sebuah “serangan” yang dampaknya jauh lebih besar daripada serangan fisik. Ia mengambil contoh kasus yang terjadi di Provinsi Bangka Belitung.
“Saudara-saudara, saya beri contoh dari Bangka Belitung. Kita hilang 45 triliun tiap tahun selama sekian puluh tahun. Apakah itu bukan sebuah serangan?” tanya Presiden.
Presiden kemudian melakukan kalkulasi yang mengejutkan. Jika kerugian Rp45 triliun itu terjadi selama 20 tahun, total kerugian yang diderita negara mencapai Rp900 triliun.
“Apa yang kita bisa bangun dengan 900 triliun, Saudara-saudara?” tegasnya, menyoroti betapa besar potensi dana pembangunan yang hilang akibat kerugian tersebut. Meskipun demikian, Presiden menyatakan bahwa upaya untuk mengatasi masalah ini sudah mulai dirintis.
Maung: Kebanggaan Baru Militer dan Pejabat Indonesia
Setelah menyinggung masalah kerugian, Presiden beralih ke topik yang lebih inspiratif: kemandirian industri otomotif dalam negeri. Ia memastikan bahwa Indonesia akan memiliki mobil buatan sendiri dalam kurun waktu tiga tahun ke depan.
“Kita akan punya mobil buatan Indonesia dalam 3 tahun yang akan datang,” ujarnya penuh optimisme.
Saat ini, tim sudah berhasil merintis kendaraan jenis Jeep yang diberi nama Maung. Presiden dengan bangga menyinggung bagaimana kendaraan ini harus menjadi simbol kebanggaan bagi para perwira dan pejabat militer.












