Pernahkah Anda bertanya-tanya mengapa ada orang yang terlihat santai, namun uang seolah mengalir begitu saja ke hidupnya? Sementara kita, yang sudah bekerja keras dan berhemat, merasa seperti terjebak dalam lingkaran gaji ke gaji. Jawabannya, menurut pengamatan, bukan pada seberapa keras kita bekerja, melainkan pada pola pikir kita terhadap uang.
Artikel ini akan mengupas tiga pola pikir yang secara diam-diam menentukan hubungan kita dengan kekayaan. Pola-pola ini jarang diajarkan di sekolah, namun vital untuk membangun kehidupan finansial yang sehat dan berkelanjutan.
Baca Juga: Arus Balik Libur Nataru 2025/2026, Berikut Beberapa Stasiun KA Yang Jadi Favorit Penumpang
Pola Pikir 1: Berlimpah vs. Berkurang
Banyak dari kita hidup dengan mentalitas kekurangan—takut uang habis, takut kehilangan, dan enggan mengambil risiko. Ketakutan ini membuat kita mati-matian menabung, namun juga menahan kita untuk berinvestasi atau mengambil peluang baru. Padahal, uang seharusnya dilihat seperti air sungai yang mengalir, datang dan pergi.
Baca Juga: Refleksi Akhir Tahun 2025, LDII Kota Kediri Ajak Tingkatkan Kualitas Diri Menuju 2026
Orang dengan pola pikir kelimpahan percaya bahwa selama mereka terus belajar dan memberikan nilai, uang akan terus datang. Inilah yang mendorong mereka berani mencoba hal baru, karena mereka yakin rezeki itu luas.
Pola Pikir 2: Investor vs. Konsumen
Baca Juga: Rangkaian Musda VII LDII Kota Kediri tahun 2025, Upayakan Peningkatan Kapasitas Pemuda
Pola pikir ini adalah jebakan terbesar. Setiap kali mendapatkan uang, seorang konsumen akan langsung berpikir, “Apa yang bisa saya belanjakan?” Sebaliknya, seorang investor akan bertanya, “Bagaimana cara agar uang ini bekerja untuk saya?”












