Example floating
Example floating
Internasional

Malam Neraka di Kharkiv, Balas Dendam Rusia yang Memporak porandakan Kota dan Isinya

A. Daroini
×

Malam Neraka di Kharkiv, Balas Dendam Rusia yang Memporak porandakan Kota dan Isinya

Sebarkan artikel ini
Ukraina hancur dibombardir Rusia

Dentuman keras yang memekakkan telinga mengoyak ketenangan dini hari di Kharkiv, kota terbesar kedua Ukraina, Sabtu, 7 Juni 2025.

Di bawah selimut kegelapan, hujan rudal, bom udara berpemandu, dan drone Rusia tanpa ampun menghantam, mengubah blok apartemen, gedung administrasi, hingga sekolah musik menjadi puing-puing berasap.

Baca Juga: Rusia Lirik Pasukan Garuda untuk Perbatasan Ukraina, Kemlu Buka Suara

Serangan masif ini, yang menurut Wali Kota Igor Terekhov adalah “teror langsung” dan “paling dahsyat sejak dimulainya perang skala penuh,” menewaskan sedikitnya tiga warga sipil dan melukai puluhan lainnya, termasuk seorang gadis 14 tahun dan bayi berusia satu setengah bulan.

Insiden mengerikan ini bukan hanya serangan biasa. Ini adalah babak baru dalam spiral eskalasi yang tak berkesudahan, diduga kuat sebagai balas dendam brutal Rusia atas operasi pesawat tak berawak Ukraina yang sebelumnya melumpuhkan lebih dari sepertiga kapal induk rudal jelajah strategis Moskow.

Baca Juga: Spektakuler Pecahkan Rekor MURI Khofifah Dan Utusan Khusus Raja Salman Ajak Ribuan Warga Bukber Sebagai Simbol Persaudaraan Dunia

Sebuah pukulan telak bagi kekuatan militer Rusia yang dijawab dengan rentetan kehancuran di jantung kota.

Jejak Kehancuran dan Jeritan Warga

Video-video yang dirilis layanan darurat memperlihatkan pemandangan yang memilukan: api melalap blok apartemen bertingkat di distrik Osnovyanskyi, tempat dua nyawa melayang.

Baca Juga: Umi Sjarifah, Pemred Media Sudut Pandang Raih Anugerah INDOPOSCO atas Dedikasi Jurnalistik

Di distrik Kyivskyi, serangan serupa merenggut satu korban jiwa di sebuah rumah. Total, setidaknya 40 ledakan mengguncang Kharkiv, menciptakan kengerian yang tak terbayangkan bagi warganya yang damai.

Menteri Luar Negeri Ukraina, Andrii Sybiha, tak kuasa menahan kekecewaan dan kemarahannya. Ia mengecam tindakan Rusia sebagai kelanjutan “teror terhadap warga sipil” dan menyerukan tekanan internasional yang lebih besar kepada Moskow untuk menghentikan pembunuhan dan penghancuran yang tak berujung di Ukraina.

Angka-angka berbicara sendiri: lebih dari 50 pesawat tak berawak, empat bom udara berpemandu, dan sebuah rudal menjadi alat kehancuran dalam serangan malam itu.

Perang Eksistensial dan Ultimatum yang Ditolak

Di sisi lain konflik, Kremlin bersikukuh bahwa perang di Ukraina adalah “eksistensial” bagi Rusia. Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, menanggapi pernyataan Presiden AS Donald Trump yang membandingkan Moskow dan Kyiv dengan “perkelahian anak-anak” dengan nada serius.

“Bagi kami, ini adalah masalah eksistensial, masalah kepentingan nasional, keselamatan, masa depan kami dan masa depan anak-anak kami, negara kami,” tegas Peskov, menunjukkan betapa dalamnya akar konflik ini bagi Moskow.

Klaim ini diperkuat oleh Presiden Rusia Vladimir Putin yang, pasca-serangan drone Ukraina terhadap pesawat militer berkemampuan nuklir di pangkalan udara Rusia di Siberia minggu lalu, bersumpah akan membalas.

Ironisnya, di tengah semua ini, upaya perdamaian terus berlanjut, meskipun tanpa hasil nyata. Ukraina sempat mendesak gencatan senjata 30 hari tanpa syarat dalam perundingan di Istanbul, Senin, 9 Juni 2025.

Namun, harapan itu pupus. Rusia, yang kini menguasai sekitar seperlima wilayah Ukraina, berulang kali menolak seruan untuk mengakhiri perang.

Tuntutan Putin untuk menghentikan pertempuran sangat besar: penarikan penuh pasukan Ukraina dari empat wilayah yang diklaim Rusia (meskipun tidak sepenuhnya di bawah kendali militernya), diakhirinya dukungan militer Barat, dan larangan Ukraina bergabung dengan NATO.

Bagi Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky, tuntutan ini hanyalah “ultimatum lama.” Ia mempertanyakan tujuan dari perundingan semacam itu, dan alih-alih menuruti, Zelensky menyerukan pertemuan puncak yang dihadiri oleh dirinya, Putin, dan Trump—sebuah harapan tipis di tengah awan kelabu perang yang tak kunjung usai.

Kharkiv, dengan luka barunya, kini menjadi simbol dari ketidakpastian masa depan Ukraina. Di tengah gempuran tanpa henti dan tuntutan politik yang tak berujung, warga sipil terus membayar harga tertinggi dalam konflik yang, bagi kedua belah pihak, adalah soal eksistensi.