Dentuman keras yang memekakkan telinga mengoyak ketenangan dini hari di Kharkiv, kota terbesar kedua Ukraina, Sabtu, 7 Juni 2025.
Di bawah selimut kegelapan, hujan rudal, bom udara berpemandu, dan drone Rusia tanpa ampun menghantam, mengubah blok apartemen, gedung administrasi, hingga sekolah musik menjadi puing-puing berasap.
Baca Juga: Rusia Lirik Pasukan Garuda untuk Perbatasan Ukraina, Kemlu Buka Suara
Serangan masif ini, yang menurut Wali Kota Igor Terekhov adalah “teror langsung” dan “paling dahsyat sejak dimulainya perang skala penuh,” menewaskan sedikitnya tiga warga sipil dan melukai puluhan lainnya, termasuk seorang gadis 14 tahun dan bayi berusia satu setengah bulan.
Insiden mengerikan ini bukan hanya serangan biasa. Ini adalah babak baru dalam spiral eskalasi yang tak berkesudahan, diduga kuat sebagai balas dendam brutal Rusia atas operasi pesawat tak berawak Ukraina yang sebelumnya melumpuhkan lebih dari sepertiga kapal induk rudal jelajah strategis Moskow.
Baca Juga: Operasi "Smash and Grab": Amerika Serikat Dilaporkan Tangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro
Sebuah pukulan telak bagi kekuatan militer Rusia yang dijawab dengan rentetan kehancuran di jantung kota.
Jejak Kehancuran dan Jeritan Warga
Video-video yang dirilis layanan darurat memperlihatkan pemandangan yang memilukan: api melalap blok apartemen bertingkat di distrik Osnovyanskyi, tempat dua nyawa melayang.
Baca Juga: Protes Memanas di Timor Leste, Ribuan Warga Turun ke Jalan Tolak Pembelian Mobil Mewah Anggota DPR
Di distrik Kyivskyi, serangan serupa merenggut satu korban jiwa di sebuah rumah. Total, setidaknya 40 ledakan mengguncang Kharkiv, menciptakan kengerian yang tak terbayangkan bagi warganya yang damai.
Menteri Luar Negeri Ukraina, Andrii Sybiha, tak kuasa menahan kekecewaan dan kemarahannya. Ia mengecam tindakan Rusia sebagai kelanjutan “teror terhadap warga sipil” dan menyerukan tekanan internasional yang lebih besar kepada Moskow untuk menghentikan pembunuhan dan penghancuran yang tak berujung di Ukraina.
Angka-angka berbicara sendiri: lebih dari 50 pesawat tak berawak, empat bom udara berpemandu, dan sebuah rudal menjadi alat kehancuran dalam serangan malam itu.
Perang Eksistensial dan Ultimatum yang Ditolak
Di sisi lain konflik, Kremlin bersikukuh bahwa perang di Ukraina adalah “eksistensial” bagi Rusia. Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, menanggapi pernyataan Presiden AS Donald Trump yang membandingkan Moskow dan Kyiv dengan “perkelahian anak-anak” dengan nada serius.












