Dalam wacana yang disampaikan oleh Edvin Aldrian, seorang profesor di Pusat Riset Iklim dan Atmosfer Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), diketahui bahwa fenomena iklim El Nino, selain dapat memicu kekeringan yang panjang, juga membawa efek positif yang dapat dimanfaatkan secara maksimal.
Baca Juga: Pastikan Kesiapan Angkutan Lebaran 2026, Direktur Operasi KAI Lakukan Inspeksi Lintas di Wilayah Daop 7 Madiun
El Nino sendiri adalah fenomena pemanasan di wilayah tropis Pasifik bagian timur, berbeda dengan La Nina yang merupakan fenomena pendinginan suhu. Kedua fenomena ini, yang merupakan bagian dari El Nino-Southern Oscillation, memiliki dampak signifikan terhadap curah hujan global.
Menurut Edvin Aldrian, tahun 2023 menjadi tahun di antara suhu kritis permukaan laut, dan sedikit peningkatan suhu dapat meningkatkan penguapan serta memicu peningkatan curah hujan. Hal ini disampaikannya dalam konferensi The 3rd International Conference on Radioscience, Equatorial Atmospheric Science and Environment (INCREASE) 2023, yang dilansir dari situs BRIN pada Selasa (21/11).
Baca Juga: Pastikan Kesiapan Angkutan Lebaran 2026, Dirjen Perkeretaapian Kemenhub Inspeksi Keselamatan dan Pelayanan di Wilayah Daop 7 Madiun
Edvin juga menyoroti bahwa pada akhir tahun ini, dampak El Nino-Southern Oscillation (ENSO) akan lebih terasa, dan perlu dimanfaatkan dengan mengambil keuntungan dari dampak positif yang terjadi.
Potensi Ekonomi dan Lingkungan: Keuntungan Strategis dari El Nino-Southern Oscillation
Meskipun El Nino dapat menyebabkan beberapa dampak negatif, seperti kekeringan parah, peningkatan risiko kebakaran hutan, dan defisit air permukaan, Edvin mengakui bahwa terdapat pula dampak positif dari fenomena ini.