Strategi pencetakan dai transformatif dipacu guna memperkuat sanad dan relevansi pesan keagamaan Nahdlatul Ulama di tengah persaingan algoritma media sosial.
Memo, Cirebon — Pengembangan ekosistem ulama digital Cirebon didorong oleh Rais Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Imam Jazuli sebagai langkah strategis memperkuat pilar dakwah abad kedua organisasi keagamaan tersebut. Pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia Cirebon tersebut menegaskan bahwa akselerasi teknologi tidak boleh sekadar memindahkan mimbar fisik ke gawai, melainkan harus membentuk ekosistem komunikasi keagamaan yang terstruktur.
Kebutuhan Sistematisasi Program Dai Transformatif Cirebon
Penataan program pencetakan dai berkelas nasional menjadi fokus utama yang diusung oleh Imam Jazuli Foundation. Lembaga tersebut mengembangkan skema pembinaan yang terukur guna mencetak para pendakwah yang relevan dengan tren konsumsi informasi masyarakat modern.
Langkah ini dieksekusi melalui pelaksanaan Workshop Nasional Dai Transformatif di Tengah Perubahan Disruptif yang telah sukses memobilisasi 700 peserta pada September 2026. Target jangka panjang dari program ini disiapkan untuk menjangkau hingga 5.000 dai di seluruh Indonesia melalui mekanisme seleksi berbasis portofolio serta pengujian kompetensi yang ketat.
Perluasan Pelatihan Pendakwah di Provinsi Banten
Sebagai bentuk keberlanjutan program pelatihan, penyelenggaraan workshop lanjutan dijadwalkan bakal digelar di Provinsi Banten pada 18 Oktober 2026. Pelatihan ini dirancang untuk membekali para dai dengan pemahaman mendalam mengenai dinamika komunikasi digital.
Tantangan Pergeseran Pola Belajar Agama Umat
Pria yang akrab disapa Kiai Imjaz tersebut membeberkan bahwa tantangan utama dunia dakwah saat ini bukan terletak pada minimnya materi keagamaan, melainkan kesenjangan metode penyampaian. Perubahan cara masyarakat dalam mencari ilmu, memilih sumber informasi, hingga menentukan figur yang layak didengar membutuhkan pendekatan yang selaras dengan perkembangan zaman.
Paradoks Viralitas dan Kedalaman Sanad Keilmuan
Isu krusial yang disorot oleh Rais Syuriyah PBNU masa khidmah 2026-2031 tersebut adalah fenomena munculnya “ustaz instan” di ruang publik digital. Ekosistem internet memang memudahkan akses pengetahuan, namun potongan video dan hasil pencarian mesin pencari tidak mampu menggantikan proses belajar agama yang utuh.
Fenomena ini menciptakan paradoks di mana banyak ulama senior berkualifikasi tinggi kesulitan menjangkau generasi muda karena kendala bahasa media. Sebaliknya, figur baru yang menguasai teknik perekaman, algoritma, serta strategi pencitraan digital sangat cepat merebut perhatian publik meskipun kapasitas keilmuannya belum tentu mendalam.
Penguasaan Strategi Media Sosial dan Algoritma
Kiai Imjaz menegaskan bahwa ukuran popularitas atau viralitas tidak bisa dijadikan standar tunggal kebenaran sebuah pesan keagamaan. Viralitas hanya membuktikan keberhasilan menarik perhatian publik, namun tidak menjamin kedalaman substansi maupun kemaslahatan informasi yang disebarkan.
Menjaga Integritas Otoritas Keagamaan NU
Menghadapi realitas tersebut, penguatan ulama digital dinilai menjadi solusi mutlak. Figur ideal yang dibutuhkan NU bukanlah sekadar kiai yang memiliki akun media sosial, melainkan sosok yang menguasai khazanah keislaman klasik, memahami isu kontemporer, serta terampil menerjemahkan tradisi keilmuan Aswaja An-Nahdliyah ke dalam bahasa generasi muda.
Formulasi Integrasi Dakwah Mimbar dan Layar Digital
Proses transformasi dakwah menuntut para dai untuk bergerak melebihi kebiasaan berbicara di depan umum semata. Kiai Imjaz menyatakan bahwa pendakwah modern dituntut memiliki kepekaan terhadap psikologi massa, kultur komunikasi anak muda, serta keahlian riset untuk membedakan fakta dan opini.
Pemanfaatan media seperti YouTube, TikTok, Instagram, hingga podcast telah meruntuhkan sekat geografis antara penceramah dan jemaah. Keadaan ini membuka peluang besar bagi penyebaran syiar agama secara meluas jika dikelola dengan tata kelola media yang profesional.
Keharusan Tata Kelola Tim Media Profesional
Guna membangun ekosistem digital yang kuat, kiai tidak bisa lagi bekerja seorang diri di depan kamera. Diperlukan dukungan tim kerja profesional yang menguasai teknik produksi konten, desain visual, strategi distribusi, hingga analisis literasi data digital.
Orientasi Pemberdayaan dan Realitas Sosial Umat
Kiai Imjaz turut mengingatkan perlunya pergeseran orientasi dakwah dari yang semula berfokus pada kemeriahan acara seremonial menuju aksi nyata. Keberhasilan dakwah abad kedua NU diukur dari sejauh mana nilai-nilai keagamaan hadir memberikan solusi atas persoalan konkret dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat.
Penguatan Khidmah Abad Kedua Nahdlatul Ulama
Gagasan transformasi yang diusung KH Imam Jazuli bermuara pada prinsip berubah tanpa kehilangan akar keilmuan. Penyesuaian metode komunikasi modern dilakukan untuk memperluas jangkauan khidmah, bukan untuk mengorbankan tradisi dan sanad keagamaan.
Dukungan penuh terhadap talenta muda dalam pengelolaan teknologi informasi diharapkan dapat memastikan bahwa di tengah riuk rendah internet, ajaran keislaman yang ramah, moderat, dan berbasis sanad tetap menjadi rujukan utama masyarakat.
Pelibatan Generasi Muda dan Teknologi Terapan
Pengintegrasian teknologi terapan dan keterlibatan anak muda menjadi kunci keberlanjutan dakwah. Strategi ini memastikan tradisi intelektual pesantren dapat disajikan dalam format visual yang adaptif tanpa mengurangi bobot substansi ilmunya.
Konsistensi Nilai Aswaja di Tengah Kebisingan Digital
Langkah pengawalan transformasi dakwah ini menegaskan bahwa algoritma media sosial tidak boleh mendikte nilai yang hidup di tengah umat. Sanad keilmuan, kedalaman ajaran, dan prinsip kemaslahatan harus tetap menduduki posisi sentral dalam syiar Islam di era digital.












