Example floating
Example floating
Infobis

57 Ribu Rumah Siap Huni Tak Laku Karena Daya Beli Era Pandemi Rendah

A. Daroini
×

57 Ribu Rumah Siap Huni Tak Laku Karena Daya Beli Era Pandemi Rendah

Sebarkan artikel ini
57 Ribu Rumah Siap Huni Tak Laku Karena Daya Beli Era Pandemi Rendah

57 Ribu Rumah Siap Huni Tak Laku Karena Daya Beli Era Pandemi Rendah.  Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) mencatat, ada sebanyak 57 ribuan rumah ready stock atau siap huni yang belum terjual. Hal tersebut karena imbas pandemi yang menurunkan daya beli masyarakat di sektor perumahan.

“Berdasarkan data kami sampai dengan hari ini, terdapat 57.621 unit rumah ready stock yang belum terjual,” kata Direktur Jenderal Perumahan Kementerian PUPR Iwan Suprijanto dalam sebuah webinar, Jumat lalu

Baca Juga: Tiket Kereta Api Masih Tersedia!! Daop 7 Madiun Beri Diskon Klas Eksekutif Saat Arus Balik Lebaran H+5

Iwan memaparkan, konsumsi masyarakat yang lemah sepanjang pandemi, mempengaruhi minat dalam pembelian rumah. Sehingga penyerapan hunian rumah baru khususnya untuk rumah masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) sangat terdampak.

“Rumahnya tersedia, harga juga sesuai dengan cost-nya. Tetapi, ini diakibatkan daya beli masyarakat yang menurun pada situasi pandemi Covid-19,” ucapnya.

Baca Juga: KAI Daop 7 Madiun Berikan Program “Silaturahmi” Diskon Hingga 20 Persen untuk Kelas Eksekutif

Serapan di sektor properti yang menurun, lanjutnya, juga dipengaruhi oleh prioritas masyarakat yang berubah. Sebab, selama pandemi masyarakat cenderung lebih mengutamakan pembelian barang kebutuhan pokok dan alat-alat kesehatan.

“Perubahan-perubahan ini membuat masyarakat pertahankan uang untuk keperluan lain serta kesehatan, sehingga untuk pembelian rumah menjadi berkurang,” tuturnya.

Baca Juga: H2+1 Lebaran 1447 H Daop 7 Madiun Catat Berangkatkan Lebih  17 Ribu Penumpang Dihimbau Bawa Bagasi Sesuai Aturan

Iwan menambahkan, sepanjang pandemi terjadi perubahan gaya hidup masyarakat yang mempengaruhi sektor ritel. Seperti yang tadinya berbelanja secara langsung ke pusat perbelanjaan beralih ke belanja online.

“Sektor ritel banyak berubah, misalnya mulai bergeser ke belanja online. Sektor kuliner dari yang punya restoran atau rumah makan, bergeser ke menggunakan aplikasi,” pungkasnya.