Melawan Genjer-Genjer dengan Shalawat Badar

  • Whatsapp
Melawan Genjer-Genjer dengan Shalawat Badar
banner 468x60

Kepopuleran Shalawat Badar tergolong fenomenal. Shalawat Badar tak hanya dilafazkan oleh jamaah masjid. Para ulama, aktivis dan politisi pun mengumandangkan syair tersebut saat melawan komunisme hingga pada era reformasi. KH Ali Manshur Siddiq merupakan sosok di balik terciptanya shalawat itu.

Bacaan Lainnya

Wakil Ketua Pengurus Pusat Lembaga Seni Budaya Muslimin Nahdlatul Ulama (PP Lesbumi NU) KH Muhammad Jadul Maula mengatakan dalam sebuah catatan abjad pegon, Kiai Ali Manshur menuliskan, Shalawat Badar ditulis sekitar tahun 1962 atau setelah Dekrit Presiden 1959 dan jelang upaya kudeta G-30 S/PKI alias Gestapu.

Menurut Kiai Jadul Maula, Kiai Ali Manshur merasa gelisah dengan situasi umat dan kebangsaan pada era tersebut. Dia pun ingin menulis shalawat itu sebagai doa. Pada catatan itu, Kiai Ali Manshur mengatakan pada malam jumat tetangganya bermimpi didatangi sekelompok orang berjubah putih. Bersamaan dengan itu, istrinya yakni Nyai Khotimah bercerita mimpi melihat Kiai Ali Manshur berangkulan dengan Rasulullah. Kiai Ali Manshur pun mendapat penjelasan dari Habib Hadi al Haddar Banyuwangi bahwa orang-orang berjubah itu adalah Ahlul Badr (para sahabat Nabi yang bertempur di perang Badar). Dari situ, Kiai Ali menulis shalawat dan menamainya Shalawat Badar.

Shalawat Badar kemudian dibacakan Kiai Ali Manshur di hadapan pamannya yakni KH Ahmad Qusyairi dan para muridnya. Beberapa waktu kemudian, para habib yang dipimpin Habib Ali bin Abdurahman Al Habsyi Kwitang datang menemuinya  untuk mendiskusikan tetang situasi kebangsaan. Di tengah diskusi, Habib Ali Kwitang  meminta Kiai Ali Manshur membacakan Shalawat Badar. Para habib yang bertamu pun mendengarkan, mengaminkan, meluapkan rasa haru ketika shalawat  itu dibacakan. Saat itu Habib Ali Kwitang mengajak agar Shalawat Badar dipopulerkan sehingga dapat menyaingi lagu Genjer-Genjer yang dipopulerkan PKI.

Sebagai catatan, Genjer-Genjer merupakan lagu ciptaan senimaan asal Banyuwangi Muhammad Arief. Seniman yang juga aktif di Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) ini menggambarkan tentang penderitaan rakyat akibat penjajahan Jepang. Lagu ini kemudian dipopulerkan oleh seniman Bing Slamet dan Lilis Suryani. Kepopuleran lagu ini membuat PKI menjadikannya sebagai alat propaganda pada setiap kampanyenya.

loading…

KH Ali Manshur kemudian diundang ke Jakarta untuk membacakan Shalawat badar di hadapan  jamaah. Habib Ali segera menginstruksikan murid-muridnya mencatat Shalawat Badar, mencetak dan memperbanyak untuk disebarkan ke berbagai daerah. “Shalawat Badar diciptakan mengiringi keprihatinan kebangsaan, nasib rakyat, umat di tengah situasi tahun enam puluhan. Komunisme menggunakan kebudayaan melalui seni rakyat untuk mengusung tema komunisme yang itu bersitegang dengan kiai-kiai. Atas situasi itulah shalawat Badar tercipta,” kata Kiai Jadul Maula.

Hubungan NU dan PKI begitu memanas pada era 60-an. Terlebih banyak kiai NU yang mendapatkan perlakukan kekerasan karena menentang ideologi PKI serta menolak upaya paksa perampasan tanah-tanah wakaf umat untuk pesantren dan masjid, atau lembaga pendidikan islam oleh PKI. Sejarawan Islam yang juga Rektor Institut Agama Islam al-Falah Assunniyyah Kencong Jember, Rizal Mumazziq mengatakan sebelum peristiwa Gerakan 30 September (Gestapu) bentrok antara NU dengan PKI sering terjadi di sejumlah daerah.

Misalnya saja di Surabaya, pada 1960an PKI melalui Pemuda Rakyat dan Barisan Tani Indonesia menyerobot tanah milik Muslimat NU yang bertujuan untuk wakaf Yayasan Khadijah. Menurut Gus Rijal, PKI menginginkan agar tanah-tanah wakaf yang dimiliki pesantren atau kiai itu harus dibagikan secara merata bagi para rakyat atau Barisan Tani Indonesia. Patok-patok yang dipasang pemuda rakyat dan BTI itu pun menyulut kemarahan para santri terutama Banser hingga berujung bentrok.

Pos terkait